Robots Child..(Child Not Robot)

robots child vs true child

true nabils

Dulu, tugas belum terlalu menumpuk kayak jaman sekarang. Paling-paling yang dikenai tugas bertumpuk cuma orang gede aja.
Sekarang, bayangin..bertumpuk-tumpuk kertas ada di samping kita, setia menunggu untuk kamu coreti, dan segera dikumpulkan besok.
Belum les or ekskul yang setia menunggumu, les ini, les itu, ekskul ini, ekskul itu, dan sampai rumah capek..tinggal tidur!

Kenapa kita mesti ikut les ini les itu? Les mat, musik, basket dan lainnnya..tujuannya cuma satu:
BECOME CAN DO ALL MAN atau basa gampange MENJADI ORANG SERBA BISA!

Tiada waktu untuk kita untuk berangan-angan, dan akhirnya menciptakan sesuatu. Mana ada waktu? Wong sampai rumah aja udah capek, terbuai dalam mimpi dah. Kreativitas pun berkurang!
Tidak ada orang serba bisa, meski sudah les ini itu. Setiap orang pasti punya keahlian berbeda-beda. Ingat film Garuda Di Dadaku? Sang kakek mengikutkan cucunya les ini itu, namun ia tetap menonjol di bidang sepak bola.

We’re not robots, we’re a boy or girls, have a feel, not like robot, intelligence only but don’t have feel aka emotional.

Anak bukan robot yang serba bisa dan tidak punya perasaan. Ia masih butuh bermain dan belajar. Jangan dikira bermain tidak bisa menghasilkan sesuatu lo! Justru dengan bermain, kreativitas terasah! But, don’t forget to study.

Let your child enjoy her/his childhood..
Don’t force your child..
They’re not robots..

Sekian,
nabils29.

2 Tanggapan ke “Robots Child..(Child Not Robot)”


  1. 1 easy Maret 3, 2011 pada 12:02 am

    alhamdulillah… bersyukur banget saya punya orang tua yang bijak dan tidak menjadikan anaknya seorang robot :)

    • 2 nabils29 Maret 9, 2011 pada 2:26 pm

      @easy: saya bukan or.tu namun saya adalah pelajar yang mengamati (bahkan mungkin mengalami!)
      betul 3x, mengapa orang dewasa sekarang kok demen seh bikin abot aka anak robot? mengapa orang dewasa sekarang kok ingiin anaknya jadi manusia serba bisa? saya ngerti kalau manusia jangan punya satu keterampilan saja, paling tidak harus punya keterampilan dasar, misalnya melakukan pekerjaan rumah dasar, menghitung, bercakap, berdagang, memperbaiki kendaraan, bernyanyi, bermain musik, olahraga dan sebagainya agar bisa hidup mandiri kelak.
      tapi, untuk melakukan dasar-dasarnya saja, saya ambil contoh main gitar, tidak usah les gitar yang menguras tenaga, waktu, biaya dan bahkan pikiran. cukup beli buku cara bermain gitar. gitar? pinjem ajah!..begitu kan sudah, mengapa orang dewasa jaman sekarang memilih mengeleskan gitar? padahal waktu yang terbuang untuk les tadi seharusnya tergantikan oleh apa yang kita sukai. lagian gitaris-gitaris terkenal umumnya juga belajar sendiri, karena dengan belajar sendiri kita bisa bebas berekspresi, tanpa ada tekanan dari pelatih, meski untuk jadi gitaris pro kita harus les.
      Oke!
      Sekian,
      nabils29


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.