We like original..

(karangan saya)
Seorang guru melihat murid-muridnya memaparkan materi mereka lewat power point yang mereka buat. Suatu ketika, ada satu kelompok yang memaparkan, sebut saja namanya kelompok A. Apa yang dibuat oleh kelompok A itu sangat berbobot. Soal-soal dan pembahasan yang diberikan tidak seringan kelompok lain. Namun, tiba-tiba saja, ada seorang anak yang kurang paham dengan presentasi kelompok A. Anak itu bertanya, “Saya bingung dengan presentasi kelompok A mengenai asas Black. Saya bingung dengan persamaannya. Tapi, saya ingin bukan pak guru yang menjawab, yang menjawab adalah salah satu dari kelompok A!”, katanya dengan tegas.
Tapi, tak ada satu pun salah satu dari kelompok A yang menjawab. Mereka diam kebingungan. Satu anak bertanya lagi, “Tapi, kenapa kelompok ini bisa menampilkan soal dan pembahasan, serta dengan cara yang lengkap?”
Dengan kecewa, ketua dari kelompok A, sebut saja namanya J, berkata, “Kami menjiplak soal dan jawaban dari buku!”, kata J dengan kecewa. “Kalau belum mengerti betul materi yang akan kalian paparkan, sebaiknya tanya pada pak guru dahulu”, kata pak guru dengan bijak.

Itu hanya satu cerita kecil karangan saya. Cerita itu mengisahkan kelompok A yang bisa ‘memaparkan’ tapi tidak tahu isinya, saat ditanya oleh kelompok lain mereka tidak bisa menjawab. Ternyata, setelah sang ketua mengaku dengan kecewa, ternyata sang ketua bersama anggotanya telah melakukan teknik salin-tempel alias copy-paste. Namanya juga salin-tempel, tinggal salin dari sumber tanpa melakukan pengembangan dari karya tadi, tempel, jadilah sebuah karya seolah asli.

Saya tahu, kalau manusia itu bukan makhluk yang sempurna, jadi tidak mungkin semua itu 100% karya asli diri sendiri. Tapi, untuk mengurangi salin tempel tersebut, sebaiknya jangan 100% seperti sumber!

Setiap orang pasti ingin karyanya jadi yang terbaik. But, lebih baik lagi jika karya itu hasil buatan atau pengembangan sendiri atau bersama, bukan menjiplak!

Berikut ini agar kita bisa mengurangi penjiplak (an):
1. Usahakan kita membuat karya sendiri atau bersama, meski karya kita itu sangat jelek
2. Yakin-lah bahwa karya jelek tapi buatan sendiri atau bersama lebih baik daripada menjiplak
3. Kembangkan materi dari referensi daripada menjiplak
4. Biasakan jujur sewaktu ulangan/tes diri sendiri daripada menyontek
5. Banyak membaca dan berlatih daripada menjiplak

Apa seh kerugian menjiplak? :(

Kerugian menjiplak adalah seperti yang diceritakan di atas. Kita membohongi diri sendiri, golongan, atau bersama. Maaf ya kalau kamu bosan. Kelompok A memaparkan presentasi itu dengan bagus, namun saat ditanya oleh anggota kelompok lain, mereka tidak bisa menjawab. Mengapa mereka membohongi diri sendiri/kelompok, padahal mereka masih belum bisa..dan pak guru menyuruh mereka berkonsultasi tentang asas Black, seperti cerita di atas.

Dan kerugian menyontek alias saudaranya menjiplak, sama seperti kerugian menjiplak. Hanya saja menyontek lebih pada perorangan, dan menyontek biasanya dilakukan saat ada tantangan (khususnya tantangan perorangan.

(karangan saya: cerita tentang menyontek)

Lonceng berdentang kencang di suatu sekolah, pertanda jam pelajaran pertama akan dimulai. Semua kelas tampak terlihat tenang, kecuali suatu kelas yang terletak di tengah-tengah dari semua bangunan sekolah. Kelas itu, sebut saja namanya 8 Cicak.
Murid-murid kelas 8 Cicak terlihat gemetar dan cenat-cenut (emang nya SM*SH?). Mereka teringat akan ulangan biologi yang akan diuji kan hari itu, sebut saja hari Senin. Sebetulnya, gurunya baik. Hanya saja materi yang susah-susah.
Namun, ternyata guru biologi yang sudah menjadi peri bagi mereka tidak kunjung datang. Kabar datang, guru mereka ternyata sakit, dan digantikan guru matematika mereka yang galak lagi menyeramkan.
“Anak-anak, pesan dari bu guru mapel biologi, kalian ulangan tentang ginjal!”, tegas Pak Guru.
“Baik Pak”, kata mereka dengan lemas.
“Oke, saya akan memberi ulangan biologi dari bu guru kalian. Saya beri waktu kalian lima menit untuk mempersiapkan ulangan ini”, kata Pak Guru.
Waktu yang hanya tinggal lima menit itu, hanya sedikit diantara mereka yang menggunakan waktunya untuk mempersiapkan ulangan. Kebanyakan dari mereka menulis kerepekan/sontekan berupa rangkuman untuk yang memiliki keahlian menulis cepat. Yang tidak ahli menulis cepat hanya tinggal menunggu sontekan dari teman.
Habislah sudah waktu lima menit itu. Ulangan harian biologi akan segera dimulai.
Pak Guru mulai melirik mereka yang sedang mengerjakan UH. Seketika, keheningan terpecah sedikit. “Hai, Safi, contohi aku!”, seru Zack.
Safi tidak menggubris sedikit pun. Ia hanya konsentrasi pada UH tadi.
Mereka yang membawa ‘senjata’ kerepekan pun sudah siap. Salah satu dari mereka, sebut saja namanya Oezi. Ia sudah siap dengan ‘senjata’ nya yang terbuat dari kertas yang ditulisi rangkuman-rangkuman tentang ginjal. Zack melihat Oezi mengerjakan soal dengan sangat cepat seperti peri turun ke bumi lalu menghilang. “Gila..Oezi mengerjakan soal sesulit ini cepat banget..”, kata Zack.
“Hai, Oezi, cepet banget kamu ngerjainnya!”
“Ini loh senjata ku!”, kata Oezi dengan sombong.
“Alah! sini aku lihat!”
“Oke bos!”
Zack dan Oezi saling bekerja sama dalam mengerjakan soal itu. Tanpa diduga, ada satu ‘peluru’ yang lupa mereka masukkan ke dalam ‘senjata’ mereka, sementara ‘musuh’ mereka menggunakan peluru itu, berikut bunyi pertanyaannya, “Di tubulus kontruktus proksima, urine akan menjadi urine..” :(
“Susah banget!”, kata Oezi.
Sedangkan, ‘tetangga’ mereka di sebelah depan, Safi telah tertidur pulas. Dengan nekat, mereka mengambil lembar jawaban si murid teladan, Safi.
Mereka ‘beruntung’ (alias merugi) karena mencuri jawaban Safi. Tetangga mereka sebelah kanan, Andy, meminta sontekan juga. Begitu pula tetangga Andy, Raff. Raff juga meminta sontekan pada Andy. Tak lama setelah Zack mencuri jawaban Safee, langsung dikembalikan. Namun, lain halnya dengan Raff, ia ketahuan guru.
“Raff, kamu menyontek ya?”
“Ampun!”
Setelah ujian, Raff disuruh duduk sebentar dan ditanya, “Kamu sadar tidak perbuatanmu adalah perbuatan tidak baik?”, tanya Pak Guru. Raff menjawab, “Iya”.
Cerita tersebut menceritakan sekumpulan anak kelas 8 Cicak, seperti yang disebutkan di atas, mereka belum siap untuk untuk ulangan. Mereka pun mengambil jalan alternatif yaitu menyontek teman. Bahkan, seperti diceritakan, Zack nekat mengambil kertas jawaban Safi (jangan ditiru), tapi, salah satu dari ‘pasien’ mereka, Raff tertangkap basah oleh Pak Guru. Sedangkan Zack dan Oezi menikmati hasil curian itu dengan lahap nya. Memang, mereka – Zack dan Oezi – atau yang lain pun – bisa menikmati sontekan dengan lahap. Tapi, bila besar nanti, seorang yang hobi menyontek akan merasakan akibatnya. Jangan jauh-jauh, simak cerita pada awal artikel. Seorang yang hobi menyontek, nanti akan ditanyakan mengenai yang ia dapatkan – namun ia tidak bisa menjawabnya. Ia terlanjur membohongi diri sendiri di hadapan orang lain – dan semua itu sungguh tragis!
Mengapa aku membohongi diriku sendiri?..Mengapa aku berbuat curang di masa lalu?, semua pertanyaan itu menghantui seorang yang hobi menyontek.
Sebab itu, lebih baik bertanya daripada menyontek!

Perbedaan menyontek dan menjiplak versi saya bisa dilihat di bawah ini:
Perbedaan menyontek dan menjiplak versi nabils29

Kalau mau lihat secara online, klik ini:

Ngomong-ngomong, sudah jelas belum?

Tapi, keduanya sama-sama perbuatan yang kurang baik dan enggak pantas ditiru!

Sekian dari saya, nabils29. Semoga artikel ini bisa menurunkan angka menyontek atau menjiplak walau hanya kecil saja.

0 Tanggapan ke “We like original..”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.