kisah-sepatu

Bukan sepatu yang ini sih, ini sepatu keduaku. Sepatu yang aku beli itu sudah di rumah dan sering dipakai bapak untuk berolahraga di sekitar rumah.

Kejadian ini sudah berlangsung dua tahun lalu, tapi tetap tidak bisa kulupakan ya gais, haha

Pada suatu ketika, aku dan orang tuaku sedang mencari sepatu olahraga sebagai pengganti sepatuku yang sudah rusak.

Saat itu, aku menemukan sepatu yang modelnya bagus, tidak pasaran, dan… yang pasti harganya terjangkau (diskonan sih)! Aku tidak pernah melihat sepatu model seperti itu di toko manapun.

“Apik, Nduk”, kata ibuku

Sayangnya, ketika aku sudah hampir saja meminang sepatu tersebut…

“Maaf, Mbak. Sepatu yang itu bahannya terbuat dari… (pokoknya benda yang tidak bisa aku pakai)

Potek. Sepotek-poteknya. Padahal udah sreg banget sama modelnya.

Akhirnya, aku menjatuhkan pilihan kepada model yang lain, yang terbuat dari kain. Harganya memang di atas yang tadi sih, tapi aku masih sreg juga.

Syukurlah, setelah dua tahun berlalu, sepatu yang aku beli masih awet sampai sekarang, dan sering juga dipakai bapak untuk berolahraga di sekitar rumah.

Saat ini aku menggunakan sepatu olahraga berwarna biru muda (lihat di gambar), harganya setengah dari sepatu pertama, tapi sama-sama nyaman sih, bahkan sepatu keduaku ini lebih fit di aku.

Itulah kisah sepatuku.

Memang saat kita sudah merasa sreg dengan apa yang kita inginkan, tetapi kita tidak bisa memiliki karena satu dan lain hal, ya di saat itulah kita harus rela melepaskannya, dan mencari alternatif.

study-mbeler

Sudah berapa hari ya WFH? Sampai aku nggak bisa ngitung ini hari keberapa, hahah. Kalian sehat kan?

Work from home (WFH) sebagai upaya pencegahan Covid-19 telah berlangsung selama hampir dua bulan. Selama itu jugalah, banyak sekali yang berubah dari hidupku. Rutinitas berangkat ke kantor dan dandan cantique (hilih) tergantikan oleh membuka laptop dan mengerjakan semuanya dari rumah.

Ketika WFH, banyak juga hal yang bisa kulakukan selain mengerjakan pekerjaan kantor. Salah satunya adalah membuat catatan sekaligus belajar hand lettering, dan juga memberdayakan akun fake kedua, yaitu @studymbeler, yang sebelumnya sudah sering banget gonta-ganti username.

Sebetulnya, aku sudah mulai mencatat sejak kuliah sih, hanya saja catatan yang aku buat masih asal-asalan, pokoknya bisa aku baca itu sudah cukup bagiku. Sayangnya, hal itu berhenti saat aku sudah bekerja, lha wong wes gaenek seng dicatet meneh. (1)

Pada tahun lalu, aku mulai belajar hand lettering akibat melihat tulisan-tulisan estetik di Instagram. Sayangnya, pada tengah tahun 2019 hal itu juga berhenti begitu saja karena satu dan lain hal.

Barulah di akhir tahun 2019, seusai PTO, saat si mbeler ini telah sadar bahwa dia tidak boleh bermalas-malasan lagi karena harus lanjut sekolah (sayangnya ditunda ya 😥), kegiatan catat-mencatat itu berlanjut lagi, walau tidak terlalu estetik sih, pokoke iso diwoco, ngunu. (2)

Maret 2020

Merebaknya virus corona serta ketidakpastian mengenai banyak hal membuatku mengalami demotivasi yang cukup parah. Setiap hari waktuku hanya kuhabiskan untuk makan, tidur, dan mengerjakan beberapa tugas kantor. Seolah-olah hidup sudah buram.

Tentu saja aku tidak bisa berlama-lama seperti itu. Untuk membangkitkan semangatku lagi dalam menjalani hidup, aku melakukan beberapa hal, salah satunya mendirikan akun studymbeler ini.

Silakan berjunjung jika berkenan

Oke, langsung saja.

Kenapa namanya studymbeler? Bukannya ‘mbeler’ itu artinya jelek ya?

Ya benar, dalam bahasa Jawa, mbeler artinya malas. Tentu saja kita tidak boleh malas! Nama studymbeler berasal dari kata study (belajar) dan mbeler (malas). Kalau digabungkan, artinya belajar(nya) orang malas. Harapannya, studymbeler ini bisa mendokumentasikan kegiatan belajar dari si pemalas ini, dan bagaimana si pemalas itu bisa mengubah kebiasaan malasnya, tentunya dengan cara yang efektif dan efisien.

Nama ini juga terinspirasi dari studyblr, yaitu foto catatan-catatan yang ada di Tumblr. Sayangnya, aku tidak bisa membuat catatan se-estetik itu, mbeler seh! (3)

Apa latar belakang mendirikan studymbeler?

Alasan utamanya seperti yang sudah aku jelaskan, yaitu mengembalikan semangat hidup terutama semasa WFH. Selain itu, mendirikan studymbeler ini juga membantuku menyalurkan passion-ku di bidang seni gambar.

Aku suka menggambar, suatu saat nanti aku ingin membuat webtoon. Sayangnya, keadaan belum memungkinkan untuk fokus ke sana.

Lalu aku berpikir, bagaimana caraku menyalurkan hobiku namun juga menunjang pembelajaranku, khususnya untuk lanjut sekolah? Nah begitulah asal mula terbentuknya studymbeler.

Apa yang akan menjadi fokusmu di studymbeler?

Saat ini, aku masih sangat amatiran, lebih-lebih jika dibandingkan dengan para studygrammer yang sudah berkarya duluan. Aku masih fokus belajar membuat catatan yang baik dan belajar lettering lagi, gitu. Maaf ya gais kalau kontennya masih berantakan.

Ke depannya, aku ingin membuat catatan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaranku untuk lanjut sekolah*, dan hal lain yang aku pelajari. Aku ingin menyimpannya di Drive sehingga bisa kalian unduh sewaktu-waktu.

Alat apa yang sudah kamu punya untuk saat ini?

Brushpen

Artline Stix set isi 12

Tombow Dual ABT (cuma warna abu muda, pink muda, dan biru langit)

Zebra Mildliner, aku cuma punya 8 warna sih

Pulpen

Zebra Sarasa, aku cuma punya 10 warna, basic sih

Sakura drawing pen 0,3 dan 0,5

Pentel touch

Pensil? Standar sih, sejak kuliah aku tidak pernah berpaling dari Staedtler Graphite 777, penghapus juga standar, Faber-Castell abu-abu yang biasa dipakai ujian, lainnya standar sih.

Apa harapan ke depannya?

Doakan agar aku bisa terus konsisten dalam menjalankan studymbeler ini, semakin rajin, dan semakin bermanfaat. Aamiin. Mohon doanya ya gais!

Istilah

(1) Lah kan nggak ada yang bisa dicatat lagi

(2) Pokoknya bisa dibaca, gitu

(3) Malas sih!

*Tahun 2020 SPMB reguler dan Tugas Belajar/Alih Program PKN-STAN ditiadakan, doakan ya tahun depan ada lagi gais, Aamiin! Aku ingin~

bukan-cuma-kamu

Sudah aku lewati, entah hari keberapa ini

Tak dapat ke mana-mana, kecuali terpaksa

Karena wabah yang melanda negeri kita tercinta

Semuanya tertunda

Anganku, inginku

Anganmu, inginmu

Angannya, inginnya

Angan kita, ingin kita

Apa yang telah kita gantung di angkasa

Apa yang telah kita larung di samudra

Seolah semesta berkata

tunggu

Lalu aku berkata

baiklah

Tapi hati tak bisa mengingkari

mengapa begini?

mengapa semua angan dan ingin tertunda karena pandemi?

Kadang aku khawatir mengenai masa depanku

Seseorang berkata

bukan-cuma-kamu

lihat orang di situ

tak malukah kamu?

dengan hatimu yang penuh gerutu?

yang lebih menderita adalah si (itu)

Iya, aku tahu

Tak patutlah aku menggerutu

Sebab esok hari aku masih bisa berencana

makan apa ya, masak apa ya? apa yang akan kulakukan hari ini?

Seharusnya aku malu

Pada orang yang besok pun tak pernah tahu besok dia bagaimana

Biar hidup membawanya

Namun dia begitu tabah menjalani hidupnya

Seseorang yang lain berkata

tidak apa-apa, apa yang kamu rasakan bukanlah sebuah dosa

di sini aku akan setia

menemanimu, hingga saat cerah pun tiba

sehingga lebih sedikit keluh terucapkan

mari kita sama-sama saling menguatkan, bukan saling menyalahkan

from-home

Atau from-flat untukmu yang sedang tidak bisa pulang dan terjebak di kosan, kontrakan, apartemen, dan sejenisnya.

Ilustrasi bekerja dari rumah (WFH)

Per tanggal 16 Maret 2020 lalu, tepatnya sehari setelah aku berlibur ke Selong, kantorku – dan juga kantor pajak di seluruh Indonesia resmi menutup layanan tatap muka dan menggantinya dengan layanan daring sehubungan dengan pencegahan virus corona (covid-19). Begitu juga dengan kantor-kantor lainnya yang memberlakukan work from home (WFH) untuk memutus rantai penularan virus corona ini.

Kami sendiri pada mulanya mendapatkan waktu WFH hingga 5 April 2020, namun setelah melihat perkembangan virus corona yang masih meluas, masa WFH kami diperpanjang. Sampai saat tulisan ini kuketik, aku dan teman-teman masih menjalankan WFH.

Bagaimana reaksi pertama ketika aku mendapatkan WFH?

Asyik, akhirnya bisa kerja dari rumah, nggak harus mikirin pakai baju apa, dandan kek gimana, dan tentunya bisa menghindari virus corona sambil kerjaan tetep jalan!

Namun di sisi lain juga begini, apalagi setelah WFH berjalan beberapa hari,

Ih bosen banget yang dilihat tiap hari cuma kamar sama kosan melulu, gak bisa ke mana-mana, takut corona 😦

Selain menjalankan WFH, aku juga update berita mengenai virus corona, khususnya di Surabaya (tempat asalku) dan Lombok (tempatku sekarang bekerja).

Rasa was-was mulai menghampiri, terlebih setelah aku tahu di kelurahan sebelah kelurahan tempat asalku ada yang positif covid-19 pada akhir Maret lalu,

Ya Allah! Ini kan tempat yang sering banget aku lewatin pas pulang, kita sehari-hari juga beli apa-apa di sana, aku khawatir sama ortu, gimana ya?

Hal ini sempat menurunkan semangat hidupku, termasuk semangat belajar.

Karena corona,

Semuanya serba tidak pasti. Semuanya serba ditunda, atau bahkan dihentikan karena makhluk kecil yang menyebar ke berbagai belahan dunia ini.

Aktivitas ekonomi negeri ini pun melemah akibat virus corona ini. Toko-toko tutup, banyak karyawan dirumahkan, pusat perbelanjaan tutup, dan masih banyak lagi. Pemasukan pun tak seperti biasanya, sehingga kita harus berhemat agar tetap memiliki cadangan di saat-saat krisis seperti ini.

Tidak hanya itu, dampak psikologis pun melanda kita. Banyak dari kita merasa terisolasi, terbatasi, dan terkunci. Kita jadi seperti burung dalam sangkar yang tak bisa ke mana-mana. Rasa kesepian pun turut melanda karena kita tidak bisa bertemu dengan orang yang kita sayangi secara langsung, kita hanya bisa berbicara lewat media daring seperti telepon, chat, dan video call. Kekhawatiran seolah menjadi teman setia. Bahkan beberapa dari kita ada yang mengalami gejala psikosomatik karena kekhawatiran tersebut. Batuk sedikit, takut. Panas sedikit, takut. Kata ‘corona’ seolah menjadi raja di histori browser kita.

~

Semua itu membuat kita bertanya-tanya, mengeluh, bahkan marah dengan keadaan.

Apa salahku? Kenapa tahun 2020 yang kugadang-gadang sebagai tahun terbaikku malah menjadi seperti ini? Kenapa semua yang kurencanakan sejak jauh-jauh hari malah jadinya seperti ini?

Nangis batinku, ngrantes uripku. Teles kebes netes eluh cendol dawet! Cendol dawet! *eh, lupakan

Bahkan, tidak sedikit yang menyalahkan pemerintah sebagai ulil amri^ di negeri ini,

Duh, pemerintah sih lemot! Kebanyakan acara!

Hah? Mau PSBB? Makan apa woi entar kita! Mau mati apa?

Dilarang mudik? Bosen tauk di kosan! Mana nyari makan di sini susyeh lagi! Gak mikir apa?

Duh, doi sok-sokan jadi pahlawan deh! Pasti ada kamsudnya!

Salah sendiri dulu juga dianggap guyonan!

Rezim zalim sih hadehhh!

Aku tahu, mungkin pemerintah Indonesia sedikit kecolongan pada awalnya. Namun, bukannya itu lebih baik daripada tidak sama sekali? Lagipula, sekarang pemerintah sudah membuat kebijakan dan tindakan yang menyelamatkan kita. Walau ada beberapa langkah yang kurang tepat, namun setidaknya tolong hargai langkah-langkah yang sudah tepat.

Ditambah kelakuan kita yang ‘batu’,

Ih, bosen tauk di rumah teros. Nongki ah!

Pulang ahhh, qtime gitu loh!*

WFH? Saatnya berlibur, sayang lah kalau gak dimanfaatin!

Ngapain sih pake masker kain? Kan di sini baru ada yang ODP!** Belum ada yang positif kan ye?

Kita gak takut sama corona, takut itu cuma sama Tuhan! Sape lu nglarang kite ibadah? Kite doa bambang di sono! Biar virus corona cepet ilang!

Belum lagi panic buying dan info-info yang menyesatkan,

APA? CORONA? BORONG APD SAMA MASKER MEDIS AHHH! (Padahal ada tim medis yang lebih membutuhkan)

Duh, takut ga bisa keluar nih! Pokoknya borong semua sampe puassss! (Padahal banyak barang yang sebetulnya tidak perlu, kalau nggak gitu jumlahnya berlebihan)

Yuk gaes gunakan dettol sebagai diffuser! (Padahal berbahaya jika dihirup)

dan sebagainya.

Itulah dampak negatif dan sambatan yang terjadi selama wabah corona ini ada di Indonesia. Aku pun juga mengalami dan merasakannya. Namun, bukannya selalu ada pelangi setelah awan? Bukankah selalu ada hikmah di balik musibah?

Karena corona,

Banyak dari kita disuruh bekerja dari rumah. Tentu saja kita tidak menggunakan kendaraan. Karenanya, polusi udara berkurang drastis. Langit yang biasanya kelabu kini menjadi biru. Jendela yang biasanya takut kita buka karena takut udara kotor masuk, kini tidak lagi. Iya ‘kan?

Aaaah segerrr, biasanya aja dah parno buka jendela.

Langit biru perkotaan. Photo by Nicholas Design on Unsplash

Selain itu, di rumah saja membuat kita menjadi produktif. Kita bisa melakukan apa-apa yang selama ini tidak kita lakukan karena kesibukan kerja.

Tuh yang bilang “aku sibuk!”, kini Tuhan telah memberikan waktu untuk bisa melakukan banyak hal. Tinggal bagaimana kita menggunakannya.

Merangkum materi agar kita cepat paham

Jika kita biasanya membeli makanan di luar dan kini banyak restoran tutup, nah ini saatnya kita memasak sendiri. Murah, enak, hemat, dan tentunya juga sehat. Betul?

Memasak makanan adalah kesempatan untuk mengeksplor diri

WFH adalah kesempatan untuk membersihkan tempat tinggal kita. Jika biasanya kamar selalu berantakan karena kita sudah lelah bekerja, sekarang kita memiliki kesempatan untuk membersihkannya.

Biasanya kamarku selalu berantakan dan kusut. Pada hari Rabu lalu, aku mencoba membersihkan seluruh kamarku. Aku begitu puas ketika melihat kamarku yang sederhana ini nampak seperti apartemen yang ditinggali idol koriyah, di mataku, hahah

Yah lumayanlah meski nggak rapi-rapi amat

Dan yang paling penting,

Berada di rumah saja adalah saat yang paling tepat untuk merefleksi diri, memahami diri sendiri, dan meng-upgrade diri menjadi lebih baik. Mungkin pada saat sibuk bekerja kita hanya sibuk menjalankan rutinitas hingga tak pernah terlintas pertanyaan pada diri sendiri.

Refleksi diri saat di rumah saja. Photo by Philip Reitsperger on Unsplash

Yuk kita bersyukur dengan kesempatan kita di rumah saja. Banyak sekali orang-orang yang (sebetulnya) ingin di rumah saja namun tidak bisa dikarenakan pekerjaan mereka dan hal-hal lain.

Apresiasi setinggi-tingginya untuk orang-orang yang rela tidak di rumah untuk memastikan kebutuhan kita terjamin, baik itu kesehatan, makanan, dan masih banyak lagi.

Petugas medis. Photo by H Shaw on Unsplash

Akhir kata, stay safe dan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi muslim(ah)! Mungkin ramadhan tahun ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, namun aku yakin, kita bisa melaluinya dengan baik, Aamiin.


Ucapan Terima Kasih

Tulisan “from-home” ini terinspirasi dari story salah satu teman sekelasku saat kuliah di BDK Malang, yaitu Mbak Annisa Fitriyana Zaen (@) titizaen. Terima kasih sudah mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur dan melihat sisi indah dari suatu hal. Sukses dan sehat terus di sana, Mbak!

Terima kasih sudah mengingatkan, Mbak!


Lain-lain

*Untuk yang terpaksa pulang karena ada keperluan tertentu yang mendesak, tidak apa-apa asalkan tetap mematuhi protokol yang berlaku. Namun per tanggal 24 April 2020 semua transportasi umum di darat, laut, dan udara sudah dihentikan operasionalnya ‘kan ya? Mari kita saling menguatkan satu sama lain, insya Allah kalian akan bertemu orang-orang yang kalian sayang di saat terindah.

**Orang dalam Pemantauan. ODP adalah mereka yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah mengunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus tersebut. Selain itu, bisa juga orang sehat yang pernah kontak erat dengan kasus terkonfirmasi Covid-19. (Sumber: https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/19/120200123/tentang-virus-corona-covid-19-apa-itu-istilah-odp-pdp-dan-suspek?page=2.)

^Ulil amri adalah sekelompok orang yang mengurus kepentingan-kepentingan umat. (Sumber: http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/ushuludin/article/view/686)

Selong Lights

Sudah hari kesekian kami menjalani karantina sehubungan dengan pencegahan virus corona.

Sebelum karantina ini dimulai, aku ingin berbagi cerita dari H-2 karantina ini.

Pada tanggal 14-15 Maret lalu, Allah memberikan kesempatan pada diriku dan Mbak Tutut untuk pergi ke dunia – eh, kota sebelah, yaitu Selong, Lombok Timur, untuk mengunjungi kawan idola kami yang bernama Nuzlah.

Setelah beberapa hari ditunda karena satu dan lain hal, akhirnya pertemuan jumpa fans ini diadakan.

14 Februari

Setelah melihat cuaca yang cukup sendu, akhirnya aku dan Mbak Tutut memutuskan untuk berangkat ke Selong dengan motor. Di perjalanan, kami diguyur hujan di Mantang dan Kopang, mana aku nggak bawa jas hujan lagi.

Setelah berhenti-jalan-berhenti-jalan akibat hujan, kami pun akhirnya sampai di Selong menjelang magrib. Akhirnya kami bisa melihat konser kawan kami dalam keadaan sehat walafiat.

Malamnya, kami pergi ke kafe kucing mini yang terletak tidak jauh dari kos venue konser. Kucing-kucing di sana begitu imut, terawat, dan ramah. Acara konser pun berlanjut di kafe kucing tersebut.

Konser yang gaduh

Setelah acara puncak selesai, kami pun kembali ke kos. Rencananya sih, paginya mau ke Labuhan Haji, sayangnya aku dan Nuzlah kesiangan gara-gara kebiasaan melekan kami yang tak tertahankan.

15 Februari

Gagal ke Labuhan Haji, kami pun tak patah arang. Kami pun memutar haluan ke Rinjani Waterpark yang terletak di Rakam untuk mengajari idol Nuzlah mengarungi kolam hati.

Sepertinya pada sesi kali ini dia sangat cepat menyerap pelajaran dari kami. Bisa jadi dia sudah siap being mermaid.

Entah apa yang merasuki kami di kolam, tiba-tiba aku dan Nuzlah kesambet untuk pergi karaoke ke Doremi Family Karaoke Pancor.

Setelah lelah berenang, kami pun melampiaskan jeritan suara isi hati nan merdu di ruang karaoke. Eh ini bagianku dan Nuzlah sih, Mbak Tutut banyak menjadi supporter dalam konser merdu kami.

Kami pun kembali ke kos Nuzlah untuk istirahat dan sholat ashar. Setelah rangkaian acara fanmeeting selesai, aku dan Mbak Tutut kembali ke dunia asal, yaitu Praya, Lombok Tengah.

Itulah sedikit cerita kami sebelum “cahaya” Praya dan Selong sedikit diredupkan akibat karantina lokal sehubungan dengan pencegahan virus corona.

Aku tahu, Praya dan Selong mungkin bukanlah kota nan gemerlap layaknya ibukota, bukan kota sejuk layaknya pegunungan, namun menghirup udara segar dari Praya dan Selong saja adalah anugerah yang tak terhingga.

Praya, Selong

Aku rindu cahayamu

Aku rindu berkeliling mengitarimu

Walau hanya jajanan sederhana yang kita dapat

Tolong hilangkan wabah ini dari kota kami tercinta

Agar kami bisa bersama lagi

Agar kami bisa bertemu kawan-kawan lagi

Agar lebih banyak lagi kawan kami yang tahu

Praya dan Selong sangat indah

Akhir kata, yuk pergi ke Praya dan Selong, saat wabah ini telah mereda.

sepuluh hari

a flashback.

bukan waktu yang lama memang

tapi saat hari-hari itu

saat dunia luar begitu jauh

kalianlah yang bersamaku

diguling diputar apalah itu namanya

kita 44 manusia dengan keragaman dirinya masing-masing

kini sudah hampir tiga bulan berlalu

apa kabar kalian? semoga selalu dalam lindungan-Nya ya

jika aku diberi waktu

aku ingin mengenal lebih banyak lagi

selamat bekerja, selamat juga sudah satu tahun

semoga kita bertemu lagi di lain hari

yuk persiapkan untuk jenjang yang lebih tinggi

jika kita belum sempat bertemu, semoga kita bertemu saat lanjut sekolah

aku rindu.

salah satu manusia yang menyebalkan, semoga aku tidak lagi menyebalkan, maafkan aku.

role-model-

Hai!

Aku mungkin ke dunia lebih awal darimu

Tetapi aku banyak belajar

Kamu mungkin tidak banyak berkata

Tetapi dari sanalah aku dapat melihat kebijaksanaanmu

Kamu mungkin tidak selalu kelihatan

Tapi dari belakang kamu ada untuk kawan-kawanmu

Kamu mungkin merasa biasa-biasa saja

Tapi Tuhan itu adil, kamu punya kelebihan yang bisa jadi aku pun tak punya

Kamu bilang kamu membuat repot

Tidak, sama sekali tidak

Bukankah setiap orang akan saling membantu dengan kelebihan yang dia punya?

Kamu punya caramu untuk menghadapi hal-hal yang rumit menjadi sederhana

Aku tahu kamu juga bukan manusia sempurna

Ya mana ada manusia sempurna

Tapi, banyak sifatmu yang bisa dicontoh

Aku berharap aku bisa sebaik dan sebijaksana dirimu

Walau sekarang belum sih

Memang aku hanya melihat singkat saja

Tapi aku bisa belajar banyak

Selamat berkarya

Tetaplah jadi dirimu sendiri, tidak usah jadi yang lain-lain

Cukup dengan kesederhanaanmu sudah

Jangan lupa belajar, jalanmu masih panjang