Anak Kota ke Desa/Terima Kasih Desa (Poetry Edition a.k.a Part I)

Di kota
Semua serba ada
Ke mana-mana mudah
Semua tampak di mata….

Kaos mahal khas jagoanmu
Tampak di depan matamu
Jika ada uang boleh kau beli
Dan akhirnya kau memiliki

Jika ingin mengisi perutmu yang keroncongan
Engkau hanya jalani sedikit pelancongan
Tak payah cari dan sembelih hewan
Tinggal pesan dan siap makan

Jika ingin berangkat atau pulang dari mana – eh di mana,
Angkutan kota siap mengantar, berseliweran di jalan-jalan,
Angkutan pribadi juga siap menanti, supir pribadi pun,
Tak payah berjalan kaki hingga lelah dan lemas

Jika supir telat mengantar atau menjemputmu, hati ini rasanya dongkol sekali,
Pita suara yang ada di pangkal tenggorokan ini mulai bergetar, dan ingin berteriak dan suarakan apa yang ada di hati,
Kaki ini rasanya ingin istirahat sejenak, ingin duduk, tunggu supir yang lama ini,
Mata ini rasanya bosan lihat sekeliling yang mulai sepi dan sunyi,

Atau jika kamu menunggang angkutan umum
Jika angkutan umum tak kunjung terlihat batang hidung,
Kaki ini ingin mengertak trotoar yang di bawahku,
Dan mulut ini tak segan-segan teriakkan kata-kata kekesalan

Namun tiba-tiba,
Sebuah rencana yang tak dikau kehendaki
Di secarik kertas yang berisi (Anda ke desa!)
Otak ini bayangkan, rasanya di desa, hati ini ingin tolak tapi tak bisa,

Dan pada esok hari yang pagi,
Rencana yang tak dikehendaki dimulai,
Sepanjang jalan kau hanya melihat ‘indahnya’ sawah dan ladang,
Yang buat matamu lelah

Dan parahnya lagi, hanya diantarkan hingga ke depan desa,
Tas yang berat ini kau jinjing seorang diri,
Lewati jalan setapak sempit sekali,
Lihat pandang sana-sini hanya nampak rerumputan yang usik hati,

Lepas itu tak pula engkau boleh bersantai,
Naik perahu yang lamban ini,
Sepanjang jalan hanya tertampak tanaman yang hijau sekali,
Rasa awak ingin istirahat sejenak saja

Betapa di desa, untuk mandi, tak semua tersedia seperti di kota
Tanpa shower yang melangit di atasmu
Ingin air yang hangat harus masak dulu
Bukan tinggal tekan tombol ini itu

Bermain pun, tiada canggih pun (kalau pun ada jarang)
Sebatang kapur dan batu menjadi bekalmu
Lukis lapangan pun butuh waktu
Kau pun harus genggam batu (olala!)

Apa yang ada di sekitar
Mesti dimanfaatkan benar-benar
Di mana ada secelah kesempatan
Peluang untung pun menunggu

Oh betapa, kau dan aku mendapat pelajaran
Hidup ini tak selamanya mudah
Dan harta tak selamanya
Bisa buat diri kita bahagia

Ternyata kita sadari
Betapa kerasnya hidup ini
Dan ‘ku belajar dari sini
Agar ‘ku bisa mengerti…

TAMAT!!

Syair ini saya buat setelah melihat suatu acara di layar kaca, kamu mungkin akan tahu apa acara itu..
Semoga kita bisa mengerti hidup ini, bahwa hidup adalah perjuangan alias life is hassle!

Iklan

Penulis: nabillaeda

Aquaforager / FiNe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s