Sekali, untuk tanpa

image

Catatan : Ini (mungkin) fiksi. Dan bisa saja terjadi.

Maafkan aku.

Suatu ketika dirimu melakukan sesuatu yang sedikit menyimpang.
Nama juga manusia, kau manusia, akupun.

Ketika itu, aku menghadap padamu dengan muka padam. Mata yang terbelalak. Dan suara yang menggelegar bak petir.

“Jangan seperti ini lagi!”

Seketika rautmu berubah lesu. Kau seperti melihat api berkobar.

Dalam hati ini terisak, mengapa?

“Aku hanya begini… mengapa kau langsung begitu padaku?”, ujar hatimu.

Hujan bersambut dari dirimu. Siapakah sang langit? Wajah. Dan, siapakah sang awan? Mata.

Dan perlahan, hujan itu mereda.

Bayang bersambut dari dirimu. Siapakah bayang? Apa yang selama ini pernah dirimu lakukan.

Perlahan, kau mengerti. Mengapa aku begitu padam saat itu.

Sekali kepadaman untuk TANPA kepadaman. Sekali gelegar untuk TANPA gelegar yang akan merusak gendang telingamu nanti.

Sekali saja. Aku tak ingin melihat berkali-kali kau merasakan gelegar, kepadaman dan belalak mata orang lain.

Sekali. Cukup!


Pikirlah saja dulu, hingga tiada ragu (meminjam kalimat dari lirik lagu HiVi / Siapkah Kau ‘Tuk Jatuh Cinta lagi, hehe).