Terakhir, Terpilih! : Sebuah Perjuangan

Sesuai janjiku pada post 75%?, aku akan memenuhinya, yaitu membuat tulisan tentang perjalanan panjangku untuk memasuki PKN-STAN.

Kenapa judulnya kok “Terakhir, Terpilih! : Sebuah Perjuangan”? Kenapa nggak “Perjuangan Memasuki PKN-STAN” saja? Karena PKN-STAN adalah ujian yang paling lama pengumumannya, dan itulah yang kupilih sebagai jenjang pendidikanku selanjutnya.


Sebetulnya, dahulu orangtuaku sudah memberi penjelasan tentang PKN-STAN (saat itu namanya masih STAN) padaku sejak kelas 2 SMP. Namun, aku tidak mau karena saat itu kupikir pelajarannya hanyalah Akuntansi, Akuntansi, dan Akuntansi! Sedangkan aku sudah cukup takut dengan pelajaran Ekonomi dan Akuntansi (Tata Buku) saat itu. Belum lagi, saat itu sedang santer-santernya diberitakan oknum alumni yang melakukan korupsi.

Ketika awal SMA, pandanganku masih sama dengan SMP. Hanya saja, aku sudah berpikir tidak semua alumni itu seperti sang oknum tersebut. Masih banyak alumni STAN yang berprestasi.

Nilai mapel Ekonomi saat SMA? Wah, jangan ditanya ya Kak! Ngepres banget! Sering remed!

Semua pandangan itu berangsur-angsur mulai berubah saat kelas 3 SMA. Ternyata PKN-STAN itu tidak hanya Akuntansi. Pajak, Penilai, Kebendaharaan Negara, Manajemen Aset, dan Bea Cukai juga ada di PKN-STAN.

Ketika kelas 3 SMA, sebetulnya ada niat pada diriku untuk memilih jalur IPC pada SBMPTN, karena pada bidang studi Soshum aku berminat pada studi hukum dan semacamnya. Namun, aku tidak jadi memilih IPC, karena pelajaran pada Saintek yang sudah susah. Mungkin aku bisa menempuhnya di luar SBMPTN.

Pendaftaran USM PKN-STAN dimulai. Aku mendaftar pada tanggal yang SANGAT MEPET dari penutupan. Aku mendaftar pada tanggal 3 April 2016, sedangkan penutupan pendaftaran adalah 4 April 2016 (untung diperpanjang hingga tanggal 9 April 2016). Akhirnya aku berhasil mendaftar sepenuhnya pada tanggal 4 April 2016, dengan menjadi pendaftar ke-7224 dari sekitar 8000-an pendaftar yang ada di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Karena aku mendaftar pada saat-saat terakhir, otomatis aku mendapatkan jadwal verifikasi berkas pada tanggal terakhir juga, 28 April 2016. Alhamdulillah,rata-rata nilaiku memenuhi syarat dan berkasku lengkap. Dan aku mendapatkan BPU ((Bukti Peserta Ujian) dan denah lokasi USM PKN-STAN (tertulis) yang dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2016 di UIN Sunan Ampel. Saat itu, aku mendapat ruang ujian di Gedung Fakultas Dakwah D2.

Season 1 : Membagi Diriku (USM PKN-STAN Tahap Ujian Tulis)

Tanggunganku tak hanya USM PKN-STAN. Masih ada UM-PENS PLN, UMPN PENS, dan tentu saja SBMPTN. Pada bulan Mei, ujian yang datang adalah USM PKN-STAN, UM-PENS PLN, dan SBMPTN.

Ketika itu, aku masih rutin belajar Intensive di BKB Nurul Fikri untuk belajar materi SBMPTN. Belum lagi PS (Problem Set, semacam buku PR dari BKB NF) yang harus kukerjakan sesuai target (kalau bisa lebih). Tentu saja, aku sangat giat belajar SBMPTN saat itu.

Sebetulnya, aku sudah belajar beberapa latihan soal USM PKN-STAN, hanya saja tidak terlalu intens (Jangan ditiru ya! Bagi kalian yang mau masuk PKN-STAN, siapkan dari awal!)

Ketika beberapa minggu sebelum USM PKN-STAN, barulah aku mulai belajar dengan intens. Sebisa mungkin aku maksimal dalam setiap tesku! Walaupun belum tentu akan lolos. Keluarkan usaha terbaikmu, Da!

15 Mei 2015.

Badanku panas, dan aku batuk. Ketika peserta lain berangkat dengan wajah yang riang dan tubuh yang sehat, aku berangkat dalam keadaan seperti ini. Sudah pasrah diriku, yang penting aku bisa menjalankan USM ini.

Peringatan : Jaga kesehatan kalian ketika hendak USM PKN-STAN! Jangan sepertiku! Banyak yang gugur di tahap ini, mencapai 93%!

Terlebih lagi ketika melihat peserta di depanku sudah mengisi penuh, sedangkan aku masih banyak yang kosong. Eoddeokhae? … mana USM PKN-STAN itu ada nilai matinya pula. Ya sudah, aku mengisinya semampuku.

Setelah pulang USM, tubuhku masih panas dan lemas. Sudah, mungkin aku tak lolos … wong TPA lo, cuma ngisi berapa … untung aku mengisi TBI cukup banyak, walau tidak tahu apa semua itu benar. Tapi bukan berarti ngawur lo, aku hanya menjawab bila memiliki dasar untuk menjawabnya.

25 Mei 2015

Pengumuman USM PKN-STAN tahap ujian tertulis telah ada di situs PKN-STAN. Saat itu masih pagi buta, jam 3 pagi. Aku mencoba membukanya, dan …

Namaku ada! Nomor BPU-ku tercantum! Sungguh aku tak menyangka. Mana mungkin aku yang latihan hanya dengan satu buku, sakit saat USM, mengerjakan TPA cuma sedikit, TBI nggak tahu benar berapa, bisa lolos? Sungguh ini kuasa Allah SWT.

Dan di sebelah kanan namaku ada jadwal Tes Kesehatan dan Kebugaran (TKK) USM PKN-STAN. Karena daftarku yang terakhir, otomatis aku mendapatkan tanggal yang terakhir juga, hehe. Tanggal tes TKK-ku adalah hari Jumat, 3 Juni 2016. Alhamdulillah, tidak bertabrakan dengan jadwalku yang sebelumnya.

Season 2 : Jangan Manja! (TKK USM PKN-STAN)

Mengetahui aku lolos ujian tertulis USM PKN-STAN, aku ingin mempersiapkannya sebaik mungkin. Bagaimana aku bisa berlatih? Untungnya, orangtuaku menyarankanku untuk berlatih lari 12 menit dan lari angka 8 bersama saudaraku.

Ketika mencoba lari 12 menit, sungguh itu sangaaaat berat, mengingat aku yang sudah tiga bulan lebih tidak lari seperti itu. Terakhir ya pas ujian praktek. Bayangkan, pada percobaan pertamaku, aku HANYA berhasil mendapatkan tiga putaran dalam 12 menit! Setelah itu, saudaraku berkata :

“Kamu sering minum es ya? Kelihatan dari napasmu …”

Iya benar. Aku sangaaaaat suka minum es. Aish, dasar Aquaforager, yang sering tak dapat menahan diri untuk minum es.

Tapi, kali ini aku HARUS bisa menahan diri untuk minum es. HARUS!

Setelah itu, saudaraku mengajariku lari angka 8.

Aku baru berhasil pulang sehabis maghrib. Baru kali itu aku membawa sepeda motor dengan pulang semalam itu sendirian. Dari Semolowaru hingga Simogunung.

Pada saat hendak percobaan kedua …

Jinjja? Sepatuku basah? Karena hujan.

Alhasil aku memakai sepatu gunung pemberian saudaraku yang lain. Sedikit keras, sih. Tapi masih enak.

Dan, celakanya, Kak! Aku tidak membawa kaos kaki!

“Nggak lecet, ta?”

“Nggak apa … bisa, kok”

Aku mencoba lagi untuk lari di GOR ITS. Hasilnya meningkat, sih, empat putaran. Tapi, ngos-ngosan. Sampai saudaraku takut bila diriku kenapa-napa.

“Jangan manja! Tahan dirimu … Kamu ini pingin masuk STAN nggak sih?”

Tentu saja aku menjawab Ya.

Tapi, dia menyemangatiku lagi.

“Ntar kalau di lokasi sebenarnya juga akan terpacu, kok”

Jumat, 3 Juni 2016. Hari itu datang.

Aku datang ke lokasi tes bersama ayahku. Saat itu, lokasi tes berada di Lapangan Bola UNIPA Menanggal. Saat itu, aku mendapat nomor antri yang agak belakang, mengingat hadirku yang agak belakang, walaupun aku dan ayahku sudah berusaha hadir sepagi mungkin.

Setelah itu, aku mengantri di depan Poliklinik UNIPA untuk tes kesehatan. Pada saat ini, aku bertemu anak-anak. Selain itu, aku juga bertemu Hanif, teman SMP-ku dan teman semasa pelajaran peminatan Elektronika di Spega.

Akhirnya, tibalah saatku untuk tes kesehatan. Saat hendak menunggu pengecekan tensi darah, aku sedikit deg-degan mengingat tensiku yang biasanya rendah. Masih terkenang aku yang gagal donor darah di Smala karena tensi yang terlampau rendah, padahal itu adalah kesempatan terakhirku dapat mengikuti donor darah saat aku masih menjadi siswa di Smala.

Yak. Pengecekan tensi darah, tinggi, dan berat badan dimulai.

“Mbak, hayo … jangan lirik-lirik”, kata dokter yang saat itu sedang mengecek tensiku.

“Sudah sarapan?”

“Sudah, Pak”

“Sarapan apa?”

“Roti, Pak”

“Duh, arek saiki … sarapane roti kabeh!” (Duh, anak sekarang … sarapannya roti semua!)

Setelah itu, aku mendapatkan hasil tensi darahku. Untungnya, normal. 120/80. Begitu juga dengan tinggi dan berat badanku. Alhamdulillah …

Selesai? Tidak, Kak. Aku harus tes visus dan butawarna. Karena aku mengenakan kacamata, aku meminta izin kepada petugas untuk mengambil kacamataku di tas.

“Pak, ini boleh pakai kacamata? Saya pakai kacamata …”

“Iya, boleh”

Akhirnya, aku menuju ke ruang cek mata. Mahabesar Allah, hasil minusku sesuai dengan kacamataku saat itu. Padahal, sebetulnya mata kananku lebih rabun ketimbang yang kiri jika aku tutup salah satu.

Lalu, aku tes butawarna. Alhamdulillah, normal.

Setelah itu, aku menuju ke ruang tes kesehatan organ dalam. Aku begitu gugup. Untung yang memeriksa adalah dokter perempuan.

Pertama, perutku dicek. Alhamdulillah, baik. Kedua, tubuhku dipukul dengan tekanan tertentu. Pertama, sakit. Keduanya tidak, hehe. Entah bagaimana hasilnya. Setelah itu, aku dites THT. Lalu disuruh jinjit untuk tes varises, sepertinya.

Dan, yang paling menegangkan adalah … tes ambeien! Kali ini, aku disuruh membuka celana. Kenapa? Ya untuk dilihat, apakah aku memiliki ambeien atau tidak. Alhamdulillah, sepertinya tidak.

Setelah tes kesehatan selesai, lanjutlah diriku ke tes kebugaran. Kami dibagi menjadi kloter yang berisi sepuluh orang. Aku adalah peserta putri terakhir di kloterku. Lainnya nomor 90-an, aku 100-an. Aku mendapatkan waktu sebelum salat Jumat. Dan, kami mendapat nomor rompi. Aku mendapat nomor 10 kuning saat itu.

Sebelum lari, kami melakukan pemanasan terlebih dahulu. Dan, saat itu dicontohkan juga bila kita sudah selesai satu putaran. Petugas menggunakan nomor rompi yang dikenakan oleh Titis sebagai contohnya. “Tiga kuning!”

Akhirnya, kami berlari selama dua belas menit mengelilingi lapangan bola UNIPA Menanggal.

“Waduh, semua larinya cepat! Jinjja?”, kataku dalam hati, yang saat itu berlari tidak terlalu cepat.

Aku tidak ingin berlari cepat di awal namun kepayahan pada akhirnya. Aku harus stabil! Harus! Dan jangan kepayahan!

Entah mengapa, pada selesai lap pertama, aku kelepasan menyebut tiga kuning, padahal nomorku sepuluh kuning. Terlalu membara kali yak.

“Tiga kuning! … Eh, Pak, Pak, sepuluh kuningggg!”

Untungnya pada lap selanjutnya aku tidak lagi salah sebut nomor.

Akhirnya, tes lari 12 menit pun berakhir. Aku mendapat lima putaran lebih sedikit, Alhamdulillah. Setelah itu, aku pun kembali pulang.

Aish. Aku sudah pasrah. Banyak yang larinya lebih dariku.

Ketika awal ramadhan, aku sudah disuruh belajar TKD (Tes Kompetensi Dasar). Tapi, aku tak yakin bila aku akan lolos TKK.

15 Juni 2015

Aku membuka pengumuman kelulusan TKK di situs resmi PKN-STAN. Dan …

Namaku dan nomor BPU-ku tercantum di sana! Dan, lagi-lagi aku mendapatkan jadwal tes TKD hari terakhir, pada hari Kamis, 23 Juni 2016 sesi pagi.

Berarti, aku harus mempersiapkan TKD lebih giat. Alhamdulillah, ayahku membelikanku sebuah buku TKD. Aku belajar TKD dari buku, internet, dan aplikasi Android. TKD terdiri dari TWK (Wawasan Kebangsaan), TIU (Inteligensi Umum), dan TKP (Karakteristik Pribadi).

TKD tak mudah bagiku, Kak. Aku yang lemah dalam pelajaran Sejarah harus mengulang materi itu berkali-kali. Begitu juga dengan Undang-Undang dan peraturan lainnya.

23 Juni 2016

Aku datang cukup pagi ke lokasi tes, yaitu Gedung Keuangan Negara (GKN) Surabaya I Aula Majapahit, di Jalan Indrapura 5, Surabaya. Setengah jam dari kawasan rumahku, Simogunung.

Akhirnya, datanglah saat itu. Hanya dua anak sesekolahku yang satu sesi denganku, yaitu Fifi dan Iib dari XII-IS. Kami mengulang lagi apa yang kami pelajari sebelum TKD.

Dan … datanglah saat itu. Badanku hangat lagi, aish. Aku mengerjakan TKD dengan keadaan tubuh yang sedikit hangat. Untung tidak panas sekali seperti waktu ujian pertama.

Ketika mengerjakan TKD, rasanya …

Jinjja? Baru soal pertama sudah seperti ini? Hm, pasrah saya, Kak. Ne …

Aku kerjakan soal-soal yang ada pada TKD itu dengan perlahan. Apa yang tak tahu, kulewati terlebih dahulu. Tapi tak isi semua, kok. Dan … sungguh mendebarkan, karena hasilnya langsung keluar.

Alhamdulillah, aku memenuhi ambang batas TKD dan masing-masing tesnya. Saat itu, skorku adalah 365, dengan rincian TWK 90, TIU 115, dan TKP 160. Banyaaaaak sekali yang jauh lebih baik dari itu. Skorku hanyalah 15 poin di atas rerata nasional.

(Ambang batas TKD adalah 271. Dengan skor minimum TWK adalah 70, TIU adalah 75, dan TKP adalah 126.)

Tapi … lolos TKD belum tentu bisa diterima, ya. Aku sudah pasrah. Tinggal menunggu pengumuman. Mana pengumumannya sempat diundur pula … semula 29 Juni, menjadi 1 Juli, walau keluarnya ternyata 2 Juli jam 00.30.

Saat itu, aku sedang menuju Masjid Agung. Aku membukanya, dan…

Alhamdulillah! Aku lolos pada Prodip I Pajak, dengan lokasi pendidikan di Malang. Walau bukan pilihan pertama, Insya Allah itu yang terbaik. Aku juga senang, karena aku mendapatkan spesialisasi impianku, yaitu Pajak.

Aku sudah mendapatkan dua PTN di Surabaya yang kusenangi saat itu. Aku mendapatkan jurusan Biologi ITS dan Teknik Telekomunikasi PENS. Hayo, yang mana yang kaupilih, Da?

Atas petunjuk Allah SWT, aku memilih Prodip I Pajak sebagai pendidikanku selanjutnya. Alhamdulillah, orang tua juga meridhoi pilihanku itu. Malahan, beliau senang, karena pendidikannya yang baik, lingkungan yang kondusif, dan pekerjaan yang baik juga.

Akhirnya, aku pun berangkat daftar ulang ke BDK Malang pada hari pertama, yaitu Senin, 25 Juli 2016. Di sana aku bertemu dengan Fifi, temanku Smala dari XII-IS, dan juga berkenalan dengan teman-teman baru lainnya.

Ya Allah, lancarkanlah studi kami di PKN-STAN. Ridhoilah kami, Ya Allah. Aamiin …


 

Kamus

Jinjja : Benarkan? ; Benar-benar. Berasal dari Bahasa Korea.

Eoddeokhae : Bagaimana? ; Bagaimana ini?. Berasal dari Bahasa Korea.

Ne : Ya. Berasal dari Bahasa Korea.

Dua kata Bahasa Korea tersebut adalah pengaruh dari Alsa, Fitria, dan Sandy (?), eh, aku sendiri yang gemar mengucap Jinjja, Eoddeokhae, dan Ne.


 

Bonus part : Q&A USM PKN-STAN.

Q :Da, aku nggak tinggi, dan aku pake kacamata. Mana mungkin bisa lolos?

A : Tinggi saya cuma 158 cm dan berkacamata, Kak. Sebetulnya selain spesi Bea Cukai boleh kok tinggi berapapun. Untuk spesi Bea Cukai minimal tinggi 155 cm bagi perempuan dan 165 cm bagi laki-laki. Mata maksimal -2 / +2 dan tidak butawarna. Selain spesi Bea Cukai tidak ada ketentuan.

Q : Untuk masuk STAN harus bisa Akuntansi ya?

A : Nggak, Kak. Kalau kayak gitu aku nggak bakal masuk STAN. TPA dan Bahasa Inggris, Kak … kita akan diajari Akuntansi, Pajak, dll itu dari dasar kok.

Q : Yang bisa masuk STAN itu cuma yang pinter ya? Hiks, aku nggak pinter, Da.

A : Ingat! Tes apapun itu tidak harus yang pinter, jenius, yang lolos. Tapi yang punya kemauan kuat, usaha dan doa yang kuat, dan Allah memilihkan jalan tersebut. Lagipula, tidak ada orang bodoh di dunia ini.

Q : STAN itu tes fisiknya susah ya kek Akpol dan Akmil?

A : Tidak seberat itu. Tapi tetap ada tes kesehatan, lari 12 menit, dan lari angka 8.Yang paling menegangkan (menurutku) adalah tes ambeien.

Q : STAN kok cuma Diploma I dan III?

A : Nggak papa, jangan khawatir, kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, kok … dan kita juga sudah mendapat pekerjaan yang layak. Jangan gengsi, Kak. Untuk apa ngebet Sarjana kalau cuma pingin gengsi dan hitz? Apapun jenjangnya, pilihlah dengan hati yang lurus.

Q : Katanya soal Bahasa Inggris susah ya Da?

A : Kalau menurutku, iya. Lebih susah dari SBMPTN. Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya. Makanya, pelajari reading dan grammar, terutama. Jangan lupa tambahlah kosakata ya.

Q : Katanya STAN sudah nggak ikatan dinas lagi ya?

A : MASIH. Buktinya, calon STANers 2016 masih harus tes TKD sebelum diterima … oh ya, angkatan kami TKD-nya di depan.

Q : Kuliah di STAN itu nggak asik ya? Saat yang lain bisa bebas, kalian harus berseragam.

A : Insya Allah asyik kok, Kak. Aku belum menjalaninya … biarkan waktu yang menunjukkannya, aku hanya bisa menjalani. Oh ya, kalau masalah tidak bisa sembarang berbaju, ya emang. Tapi itu justru menjadi tantangan tersendiri, di saat kamu harus menahan keinginan hitz dengan baju bebas. Itu akan menjadi rasa tersendiri nantinya.

Q : STAN mahal ya …

A : Waduh, Kak. Kita hanya perlu mendaftar biaya pendaftaran sebesar Rp. 250.000, seperti SBMPTN. Gratis setelah itu! Tanpa UKT! Tanpa uang pangkal!

Q : Aku takut jauh sama doiku, Kak. Apalagi kalau pas dapet di BDK yang jauh …

A : Hayo, milih doi atau masa depan? Kalau jodoh, sejauh apapun akan bertemu kok … tapi nanti, sinau sek, jok pacaran ae.

Q : STAN itu banyak cowoknya ya? Duh, aku cewek, Da.

A : Aku juga cewek, Kak. Memang, penerimaan USM PKN-STAN sampai tahun ini juga tetap banyak cowoknya. Tapi nggak ngacek kok, hanya selisih sedikit.

Q : Da, piye … aku nggak bisa sejarah dan PKn! Sedangkan tes TKD butuh itu semua.

Oh ya, walaupun skornya besar tetapi salah satu tesnya tidak memenuhi dinyatakan tidak lulus TKD, Da?

A : Belajarlah, Kak. Untukmu yang benar-benar ingin masuk PKN-STAN.

Yak, benar! Kakak harus memenuhi nilai minimal tes TKD dan nilai minimal masing-masing tesnya. Skor minimal? Scroll ke atas ya Kak.

Kejadian tidak lulus TKD walau skornya besar itu banyak, Kak. Bahkan di regionku, Surabaya, ada beberapa peserta yang tidak lulus TKD, padahal nilainya besar. Kenapa? Karena skornya tidak memenuhi pada salah satu tes, pada umumnya sih TWK. Ncen killer kok TWK iku.

Q : STAN itu militer ya? Aku nggak kuat, Da …

A : Nggak militer kok. Tapi, khusus spesi Bea Cukai itu pendidikannya semi-militer. Kenapa? Karena mereka akan disiapkan untuk mengamankan perbatasan dari penyelundupan dan barang-barang yang berbahaya.

Q : Kenapa sih, Kak, orangtua kok ngebet banget yang namanya masuk PKN-STAN? (dan juga sekolah ikatan dinas lainnya)

A : Kak, sekarang susah mencari pekerjaan … kecuali jika kau betul-betul mampu. Selain itu, orangtua juga senang akan pendidikan di PTK yang disiplin, kondusif, dan tidak terlalu bertele-tele. Apalagi untuk anak pertama dan anak tunggal, orangtua biasanya mengharapkan untuk bisa ke ikatan dinas.

Tetapi, janganlah masuk PKN-STAN atau perguruan tinggi manapun karena dipaksa. Musyawarahkan dengan orangtua dan pahamilah keinginan mereka. Jika kamu memang ingin ke PT lain, bicarakan baik-baik sebelum kamu daftar. Namun, jika memang jurusan yang kamu inginkan sama dengan apa yang ada di PKN-STAN atau ikatan dinas lain, apa salahnya mencoba.

Semisal, kamu ingin jurusan Statistika di ITS. Tidak ada salahnya kan mencoba USM STIS? Mungkin saja Allah memberikanmu jalan menjadi statistikawan/wati melalui STIS, bukan ITS.

Pengalaman ini terjadi pada diriku sendiri, ya. Aku tidak boleh orangtuaku memilih jurusan Hukum Unair (IPC) saat SBMPTN (dan akhirnya aku hanya mengikuti ujian Saintek), padahal aku ingin mempelajari hukum, khususnya tentang pajak. Aku heran, kenapa banyak pengusaha yang memanipulasi pajaknya. Akhirnya, Allah memberikanku jalan melalui USM PKN-STAN, bukan SBMPTN.

Q : Spesi Bea Cukai hanya untuk laki-laki ya?

A : Perempuan bisa, tetapi hanya untuk Prodip I.

Q : Apakah USM PKN-STAN ada passing grade? Apakah ada kuota daerah?

A : Tidak, kok. Jangan terlalu bergantung pada Passing Grade, seleksi apapun itu! Tinggi-tinggian nilai kok, Kak, seperti seleksi lain.

PS : Q&A mungkin akan diupdate jika ada pertanyaan yang sering juga.

Jika hendak bertanya mengenai USM PKN-STAN, SBMPTN dan kehidupan kelas 12 lainnya bisa tanya aku di :

nabillaeda@gmail.com untuk e-mail.

nabillaeda untuk Instagram, bisa DM kok, tenang, nggak tak gembok.

Atau nabils29 untuk ID Line, nabils13 untuk ID KakaoTalk.

Oke. Sekian dulu, ya … hehe.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tasku

image
2011-

Ah, sudah lima tahun masamu …

Semoga kau masih tetap setia.

Pertama kali, aku mengetahui merek tas ini dari internet dan lingkungan sekitar yaitu SMP-ku. Aku melihat anak-anak yang menggunakannya dan membawa buku-buku berat setiap hari, kok awet?

Lalu, aku mulai mencarinya lewat internet. Banyak netizen yang puas dengan tas tersebut.

Karena tasku yang sebelumnya sudah mulai rusak, aku pun berencana untuk menggantikan tas itu dengan tas yang baru. Aku sudah menyiapkan sejumlah uang masa itu.

Aku pun sudah memilih model yang aku inginkan. Aku lupa, model tersebut seri apa. Yang jelas, warnanya bagus, ada tempat laptop, besar, kuat, dan nyaman di punggung. Ada lebih dari satu sih, saat itu.

Pertama kali, aku melihat di toko resmi Eiger di Manyar, Surabaya.

“Wah, harganya kok mahal ya?”, kataku saat itu. Biasanya aku hanya membeli tas dengan harga 100 — 200 ribu-an.

Ketika akhir tahun 2011, aku memutuskan mengganti tasku. Aku pun kembali mengunjungi toko Eiger yang terletak di Tunjungan Plaza, Surabaya.

Akhirnya, setelah melihat berbagai model tas di sana, ayahku memilihkan :

Eiger Yell 3.0 / Rp. 225.000 (ada diskon, sebelumnya Rp. 245.000)

Volume +/- 28 liter
Tidak ada kantung laptop
Warna hitam
Ada 3 ruang besar dengan resleting yang kuat. Ruang pertama untuk buku dan barang-barang besar, ruang kedua untuk alat tulis dan HP (ada organizer), ruang ketiga untuk kantung tambahan.
Pegangan cukup kuat
Ada sedikit busa di tempat punggung sehingga nyaman dipakai dalam waktu yang lumayan lama

Alhamdulillah… saat itu, aku dan ayahku mendapat tas yang baik dan sesuai kebutuhanku sebagai anak kelas 8 SMP masa itu, walau tas dengan seri tersebut bukan tas yang paling kuidamkan sebelumnya (ada seri yang lebih kuinginkan, namun harganya jauh melebihi kantong kami).

Aku senang sudah mendapat tas baru saat itu. Saat itu, tas baruku sudah mendapat tugas yang cukup berat, yaitu membawa buku-buku tebal dalam jumlah yang banyak.

Aku berharap tas ini dapat awet, setidaknya hingga aku masuk SMA karena kebutuhanku yang lain semakin banyak. Selain itu, harga tas ini sedikit lebih mahal dari tasku yang lain.

Tak terasa, masaku di SMP telah berlalu. Ketika menginjak bangku SMA, tas ini tetap kupakai.

Salah satu saat yang paling berkesan dengan tas ini adalah saat Smart Learning di Trawas, Mojokerto. Aku harus membawa baju dan perlengkapan lain saat itu. Bagaimana ini? Sedangkan tasku hanya ini. Akhirnya, kubawa tas ini. Alhamdulillah, masih awet.

Barang bawaanku di SMA juga makin berat. Buku-bukunya juga makin tebal, belum perlengkapan lain.

Ketika aku harus menginap atau pulang lama karena acara sekolah, tas ini juga setia menemaniku dengan segala beban yang kumasukkan.

Ketika jalan-jalan pun, aku juga setia membawa tas ini, karena selain nyaman juga muat banyak.

Pun ketika mudik, aku juga membawa tas ini.

Waktu berlalu. Tren tas berganti. Banyak teman-temanku yang sudah berganti tas. Sementara tasku tetaplah tas ini. Ya, setia sekali, Kak.

Aku tak peduli dengan godaan toko-toko tas saat berbelanja, walau tas yang ada di toko itu jauh lebih bagus dari tas ini. Aku ingin memakainya sampai… setidaknya sampai lulus SMA. Aku hanya ingin membeli tas baru jika dan hanya jika aku tidak berkuliah di Surabaya lagi. Kalau masih di Surabaya, tas ini juga masih cukup.

Ya, walau warna tasku ini sudah mulai memudar. Dahulu warnanya hitam, sekarang sudah mulai memudar menjadi kecoklatan. Tapi tasku masih setia membawa barang bawaanku, terutama saat aku kelas 12 SMA, yang pada masa berat-beratnya.

Ketika mencari jenjang pendidikan selanjutnya, aku mendapatkan tiga kampus : PENS, ITS, dan PKN-STAN (untuk lebih lanjut tentang perjalanan mencari kampus, lihat tulisan 75%? ya). Akhirnya, aku memilih PKN-STAN dengan berbagai pertimbangan.

Aku mendapat lokasi pendidikan di Malang. Tentu saja aku harus mencari kost. Dan untuk membawa barangku, tentu saja diperlukan tas dengan volume yang sedikit lebih dari tas ini.

Akhirnya… kuputuskan untuk mengistirahatkan tas ini dan membeli tas yang baru dengan kapasitas yang sedikit lebih dari tas ini. Harganya memang sudah tak se-murah meriah dulu, sih.

Terimakasih sudah menemaniku selama lima tahun dengan segala suka dan dukanya. Terimakasih sudah menemani sepenuh masa remajaku yang bagai gunung. Terimakasih telah setia membawa bebanmu yang kadang melebihi kekuatanmu sebenarnya.

Biasanya setiap tahun aku membeli tas karena kerusakan yang ada, eh karena ulahku. Tapi, aku menjadi tidak membeli tas hampir lima tahun.

Selamat beristirahat dari diriku, Kak. Atau mungkin kau masih ingin bekerja dengan yang lain.

75%?

PERINGATAN!

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak kalian untuk malas belajar hanya karena tidak dapat 75% itu tidak mengapa. TETAPLAH RAJIN BELAJAR! Agar mendapat ilmu yang barokah. Selain itu, soal-soal masuk perguruan tinggi juga memerlukan belajar dan latihan yang SANGAT INTENSIF, sungguhpun itu dasar.

Jangan terlalu menggantungkan jalur SNMPTN walau kalian dapat mendaftar! Anggap saja itu adalah lucky spin. Tetaplah belajar untuk tes masuk PT yang kalian inginkan. Jangan juga terlalu bergantung pada satu jalur tes! Karena Allah tahu mana jalan terbaik untuk hambaNya.


 

Sudah lama aku istirahat dari aktivitas bernama ngeblog. Terutama di blog wordpress. Sesekali masih di tumblr sih, boleh kok kunjung-kunjung, di : nabillaeda.tumblr.com

Ke mana sajakah aku? Tentu saja, sebagai anak kelas 12 pada tahun ajaran 2015 – 2016, aku menyiapkan diri untuk UN, dan tentu saja tes masuk PT.

Sesi 1 : Juli – Desember 2015

Hidup baruku dimulai sebagai anak kelas 12. Kegiatanku sudah jauh berkurang dibanding kelas 10 dan 11 yang banyak kegiatan dari SS dan kepanitiaan di Smala. Aku mulai fokus belajar untuk UN dan SBMPTN, baik di sekolah maupun di bimbel.

Pada bulan Oktober, aku mengikuti try out (selanjutnya kusingkat TO) SBMPTN pertamaku di Neutron. Saat itu passing grade-ku SANGAT JAUH dari target. Hanya 19,5%! Dapat apa, Kak? Dan akhirnya kegagalan itu mencambukku untuk lebih rajin belajar menghadapi SBMPTN.

Aku belajar mulai dari TKPA dahulu, yang berisi Tes Potensi Akademik (selanjutnya kusingkat TPA), Matematika Dasar (selanjutnya kusingkat Madas), Bahasa Indonesia (selanjutnya kusingkat BI), dan Bahasa Inggris. Selanjutnya barulah belajar untuk Saintek, yang terdiri dari Matematika IPA (selanjutnya kusingkat MIPA), Fisika, Kimia, dan Biologi.

Perlahan-lahan soal yang kujawab dengan benar meningkat, walau masih jauh dari target. Ketika TO kedua Neutron, passing grade-ku meningkat, sekitar 23,5%. Aku makin terpacu untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.

Sesi 2 : Semester 6 dan setelahnya.

Ketika awal Januari, banyak kakak kelas dari UI, ITB, UGM, dan ITS mengunjungi Smala untuk mengenalkan kampus mereka dan mempromosikan TO simulasi SBMPTN yang mereka gelar. Aku mengikuti TO dari UGM dan ITS karena harga tiket yang tidak terlalu mahal, saat itu harganya 25.000 saja.

Kuikuti TO di luar bimbel perdanaku, yaitu TO ILITS dari ITS. Aku hanya belajar sedikit sekali. Bagaimana ini? Soal-soalnya sulit pula.

Namun, Alhamdulillah aku mendapat nilai yang cukup baik bila dibandingkan dengan TO sebelumnya. Dan aku juga mendapatkan ranking yang lumayan saat itu.

Berlanjut dengan TO Wara-Wiri UGM. Kali ini, nilaiku meningkat, Alhamdulillah. Semua itu semakin membuatku termotivasi untuk meningkatkan itu semua.

Namun, kabar yang ‘buruk’ berhembus. TIDAK SEMUA SISWA DAPAT MENDAFTAR SNMPTN! Hanya 75% dari jumlah siswa untuk sekolah berakreditasi A. Aku berharap semoga aku dapat mendaftar SNMPTN, dan kalau bisa diterima melalui jalur tersebut. Semua itu begitu tinggi bagiku, anak dengan nilai yang biasa saja.

Penentuan bisa tidaknya ikut SNMPTN adalah tanggal 29 Februari 2016. Aku selalu menunggu kabar itu dan berharap dapat mendaftar SNMPTN. Tentu saja, sembari belajar dan berdoa.

Waktu terus berlalu. Ujian praktek menghiasi hariku. Kami menjadi akrab dengan lembar kerja praktek, kamera, kostum, dan alat musik. Dan juga persiapan ujian sekolah

-29 Februari 2016-

Tanggal itu tiba. Itu bertepatan dengan hari pertama Ujian Sekolah. Namun, tidak hari itu juga langsung keluar. Barulah saat jam 10.00 waktu setempat pengumuman itu keluar. Aku baru membukanya sore hari.

Ketika itu …

Anda tidak dapat mengikuti SNMPTN 2016. Berdasarkan status akreditasi sekolah, dan evaluasi pemeringkatan siswa berdasarkan mata pelajaran pada semester 3, 4, dan yang diujiankan dalam UN 2016.

Pupus sudah harapanku untuk mengikuti SNMPTN 2016. Sedih kurasa … sampai tiga hari, bahkan.

Ya, mau tidak mau aku harus menempuh jalur tulis! Harus! Aku tidak boleh menghentikan impianku hanya karena tidak masuk 75%!

Akhirnya, aku pun semakin giat belajar untuk US, UN dan tentu saja SBMPTN. Memasuki bulan Maret, aku pun fokus pada UN. Aku tidak mau mengikuti UNP. Aku harus memenuhi!

UN pun dimulai. Bagaimana tingkat kesulitannya? Jangan ditanya, Kak. Sulit sekali!

Ketika awal April ini, aku juga mendaftar untuk USM PKN-STAN. Aku disuruh mencoba USM PKN-STAN oleh orangtuaku. Siapa tahu aku dapat lolos seleksi tersebut. Aku mendaftar ketika pendaftaran sudah hampir ditutup, yaitu tanggal 3 April, walau pendaftaran ternyata diperpanjang hingga 8 April 2016.

Aku juga disuruh mendaftar UMPN-PENS dan PMB-PENS kelas kerjasama PLN saat itu. Jadilah aku mendaftar empat : SBMPTN, USM PKN-STAN, PMB-PENS kerjasama PLN, dan UMPN-PENS.

Selesai UN, aku langsung intensif SBMPTN di BKB Nurul Fikri. Aku mendapat 2 outline dan 2 Problem Set (PS). Sungguhpun bukunya kecil, namun soalnya banyak dan… tentu saja sulit, bagiku. Aku pun mengerjakan PS tersebut dengan perlahan, walau tidak semuanya selesai dalam sehari.

Memasuki bulan Mei, orangtuaku juga menyuruhku makin giat belajar untuk USM PKN-STAN. Aku harus membagi waktu untuk belajar SBMPTN dan USM PKN-STAN. Soal-soal USM PKN-STAN begitu banyak dan sulit, walau hanya TPA dan Tes Bahasa Inggris (TBI), apalagi TBI-nya, berkali-kali lipat lebih sulit dari SBMPTN.

15 Mei 2015. USM PKN-STAN.

Saat itu, tubuhku demam. Jalanan juga macet saat berangkat. Banyak orang. Bagaimana ini? Ya, jalani saja.

Setelah itu, aku harus kembali ke SBMPTN. Aku terus berjuang meningkatkan nilai TO-ku yang naik-turun bagai gunung. Aku sudah pasrah dengan hasil USM PKN-STAN.

25 Mei 2015

Pengumuman hasil tes tertulis USM PKN-STAN.

Alhamdulillah, aku lolos tahap ini. Tahap selanjutnya adalah tes kesehatan. Aku pun menyiapkan tes ini dengan berlatih lari 12 menit di GOR ITS, dan dibimbing oleh saudaraku.

28 Mei 2016. Ujian tulis PMB-PENS kerjasama PLN. Aku lolos tahap pertama, tapi aku gagal pada psikotes yang dilaksanakan pada 2 Juni 2016.

31 Mei 2016

SBMPTN 2016. Hari yang ditunggu.

SUSAH SEKALI. Bahkan, ada soal model baru yang keluar. Aku benar-benar pasrah. Aku keluar dengan muka masam karena soal Saintek dan TKPA yang jauuuuh dari ekspektasiku sebelumnya.

Seusai SBMPTN, aku menyiapkan tes kesehatan USM PKN-STAN dan UMPN-PENS. Perjuanganku belum selesai Juni ini, ketika beberapa anak sudah bersantai melepaskan ketegangan mereka saat SBMPTN dan ujian masuk lainnya.

11 Juni 2016

UMPN-PENS. Ruang ujianku tak kunjung dibuka. Alhamdulillah, aku dapat mengerjakannya dengan cukup baik.

15 Juni 2016

Pengumuman hasil TKK USM PKN-STAN. Kupikir aku tidak lolos pada tahap ini, hanya karena lariku yang hanya sedikit di atas rata-rata peserta putri. Alhamdulillah, aku lolos dan harus menghadapi tes TKD, yang meliputi TWK (Wawasan Kebangsaan), TIU (seperti TPA), dan TKP (sikap).

Saat awal-awal puasa, aku sudah mulai belajar untuk TKD ini, mengingat materinya yang susah, khususnya TWK. Aku lemah dalam pelajaran Sejarah.

21 Juni 2016

Pengumuman UMPN-PENS. Alhamdulillah, aku diterima di D4 Teknik Telekomunikasi PENS.

23 Juni 2016

Tibalah waktuku untuk tes TKD, bersama 45 orang lainnya. Aku mendapat sesi 9, sesi yang paling terakhir, mengingat nomor urutku yang terakhir karena waktu pendaftaranku yang juga akhir.

Soalnya? Ya seperti itu, Kak. TWK yang begitu luas …

Alhamdulillah, aku mendapat skor 365 pada TKD ini. Hanya sedikit di atas rerata nasional, yaitu 350.

Ini adalah tes terakhir. Sekarang, tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan USM PKN-STAN dan SBMPTN.

28 Juni 2016, 14.00

Aku membuka pengumuman SBMPTN dengan hati yang deg-degan. Alhamdulillah, aku diterima di Biologi ITS. Pada hari ini juga, beberapa temanku diterima di PTN yang mereka inginkan, walau ada juga yang belum lolos jalur SBMPTN. Percayalah, ada jalan untuk masuk PTN …

2 Juli 2016, 00.30

Tibalah penantian terakhir, yaitu pengumuman kelulusan USM PKN-STAN 2016. Setelah deg-degan selama berhari-hari, dan juga pengumuman yang diundur (awalnya dijadwalkan tanggal 29 Juni, lalu mundur tanggal 1, keluarnya tanggal 2) …

Alhamdulillah, aku diterima di Prodip I Pajak, dengan tempat pendidikan di BDK Malang.

Jadi, aku mendapatkan 2 PTN dan 1 PTK.

D4 Teknik Telekomunikasi PENS, Biologi ITS, dan D1 Pajak STAN (BDK Malang)

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kuputuskan untuk memilih yang terakhir, yaitu D1 Pajak STAN BDK Malang.

Ya, itulah hikmah. Aku tidak lolos 75% untuk mendaftar SNMPTN, dan aku gagal di tes PMB-PENS kerjasama PLN.

Percayalah, kawan. Ada jalan! Jangan minder hanya karena kalian tidak masuk, bahkan tidak boleh mendaftar SNMPTN sepertiku.

Tapi, ini bukan akhir perjuangan. Justru ini adalah AWAL PERJUANGAN!

Untuk adik-adikku, giatlah belajar, jangan terlalu bergantung pada SNMPTN! Persiapkan diri kalian untuk SBMPTN dan ujian masuk lainnya!

Untuk kawan-kawan yang belum lolos SBMPTN, jangan berputus asa. Ada jalan, kawan. Ada ujian mandiri, ujian masuk D3/D4, dan banyak lagi.

PS :

  • Aku akan membuat tulisan tersendiri tentang USM PKN-STAN, mengingat tesnya yang lebih dari satu tahap.
  • Pada ujian masuk PT, aku tidak boleh memilih PTN yang di luar kota, Ujian Mandiri PTN, dan PTS. Jadi, jalanku untuk ke luar kota hanyalah USM PKN-STAN.