75%?

PERINGATAN!

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak kalian untuk malas belajar hanya karena tidak dapat 75% itu tidak mengapa. TETAPLAH RAJIN BELAJAR! Agar mendapat ilmu yang barokah. Selain itu, soal-soal masuk perguruan tinggi juga memerlukan belajar dan latihan yang SANGAT INTENSIF, sungguhpun itu dasar.

Jangan terlalu menggantungkan jalur SNMPTN walau kalian dapat mendaftar! Anggap saja itu adalah lucky spin. Tetaplah belajar untuk tes masuk PT yang kalian inginkan. Jangan juga terlalu bergantung pada satu jalur tes! Karena Allah tahu mana jalan terbaik untuk hambaNya.


 

Sudah lama aku istirahat dari aktivitas bernama ngeblog. Terutama di blog wordpress. Sesekali masih di tumblr sih, boleh kok kunjung-kunjung, di : nabillaeda.tumblr.com

Ke mana sajakah aku? Tentu saja, sebagai anak kelas 12 pada tahun ajaran 2015 – 2016, aku menyiapkan diri untuk UN, dan tentu saja tes masuk PT.

Sesi 1 : Juli – Desember 2015

Hidup baruku dimulai sebagai anak kelas 12. Kegiatanku sudah jauh berkurang dibanding kelas 10 dan 11 yang banyak kegiatan dari SS dan kepanitiaan di Smala. Aku mulai fokus belajar untuk UN dan SBMPTN, baik di sekolah maupun di bimbel.

Pada bulan Oktober, aku mengikuti try out (selanjutnya kusingkat TO) SBMPTN pertamaku di Neutron. Saat itu passing grade-ku SANGAT JAUH dari target. Hanya 19,5%! Dapat apa, Kak? Dan akhirnya kegagalan itu mencambukku untuk lebih rajin belajar menghadapi SBMPTN.

Aku belajar mulai dari TKPA dahulu, yang berisi Tes Potensi Akademik (selanjutnya kusingkat TPA), Matematika Dasar (selanjutnya kusingkat Madas), Bahasa Indonesia (selanjutnya kusingkat BI), dan Bahasa Inggris. Selanjutnya barulah belajar untuk Saintek, yang terdiri dari Matematika IPA (selanjutnya kusingkat MIPA), Fisika, Kimia, dan Biologi.

Perlahan-lahan soal yang kujawab dengan benar meningkat, walau masih jauh dari target. Ketika TO kedua Neutron, passing grade-ku meningkat, sekitar 23,5%. Aku makin terpacu untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.

Sesi 2 : Semester 6 dan setelahnya.

Ketika awal Januari, banyak kakak kelas dari UI, ITB, UGM, dan ITS mengunjungi Smala untuk mengenalkan kampus mereka dan mempromosikan TO simulasi SBMPTN yang mereka gelar. Aku mengikuti TO dari UGM dan ITS karena harga tiket yang tidak terlalu mahal, saat itu harganya 25.000 saja.

Kuikuti TO di luar bimbel perdanaku, yaitu TO ILITS dari ITS. Aku hanya belajar sedikit sekali. Bagaimana ini? Soal-soalnya sulit pula.

Namun, Alhamdulillah aku mendapat nilai yang cukup baik bila dibandingkan dengan TO sebelumnya. Dan aku juga mendapatkan ranking yang lumayan saat itu.

Berlanjut dengan TO Wara-Wiri UGM. Kali ini, nilaiku meningkat, Alhamdulillah. Semua itu semakin membuatku termotivasi untuk meningkatkan itu semua.

Namun, kabar yang ‘buruk’ berhembus. TIDAK SEMUA SISWA DAPAT MENDAFTAR SNMPTN! Hanya 75% dari jumlah siswa untuk sekolah berakreditasi A. Aku berharap semoga aku dapat mendaftar SNMPTN, dan kalau bisa diterima melalui jalur tersebut. Semua itu begitu tinggi bagiku, anak dengan nilai yang biasa saja.

Penentuan bisa tidaknya ikut SNMPTN adalah tanggal 29 Februari 2016. Aku selalu menunggu kabar itu dan berharap dapat mendaftar SNMPTN. Tentu saja, sembari belajar dan berdoa.

Waktu terus berlalu. Ujian praktek menghiasi hariku. Kami menjadi akrab dengan lembar kerja praktek, kamera, kostum, dan alat musik. Dan juga persiapan ujian sekolah

-29 Februari 2016-

Tanggal itu tiba. Itu bertepatan dengan hari pertama Ujian Sekolah. Namun, tidak hari itu juga langsung keluar. Barulah saat jam 10.00 waktu setempat pengumuman itu keluar. Aku baru membukanya sore hari.

Ketika itu …

Anda tidak dapat mengikuti SNMPTN 2016. Berdasarkan status akreditasi sekolah, dan evaluasi pemeringkatan siswa berdasarkan mata pelajaran pada semester 3, 4, dan yang diujiankan dalam UN 2016.

Pupus sudah harapanku untuk mengikuti SNMPTN 2016. Sedih kurasa … sampai tiga hari, bahkan.

Ya, mau tidak mau aku harus menempuh jalur tulis! Harus! Aku tidak boleh menghentikan impianku hanya karena tidak masuk 75%!

Akhirnya, aku pun semakin giat belajar untuk US, UN dan tentu saja SBMPTN. Memasuki bulan Maret, aku pun fokus pada UN. Aku tidak mau mengikuti UNP. Aku harus memenuhi!

UN pun dimulai. Bagaimana tingkat kesulitannya? Jangan ditanya, Kak. Sulit sekali!

Ketika awal April ini, aku juga mendaftar untuk USM PKN-STAN. Aku disuruh mencoba USM PKN-STAN oleh orangtuaku. Siapa tahu aku dapat lolos seleksi tersebut. Aku mendaftar ketika pendaftaran sudah hampir ditutup, yaitu tanggal 3 April, walau pendaftaran ternyata diperpanjang hingga 8 April 2016.

Aku juga disuruh mendaftar UMPN-PENS dan PMB-PENS kelas kerjasama PLN saat itu. Jadilah aku mendaftar empat : SBMPTN, USM PKN-STAN, PMB-PENS kerjasama PLN, dan UMPN-PENS.

Selesai UN, aku langsung intensif SBMPTN di BKB Nurul Fikri. Aku mendapat 2 outline dan 2 Problem Set (PS). Sungguhpun bukunya kecil, namun soalnya banyak dan… tentu saja sulit, bagiku. Aku pun mengerjakan PS tersebut dengan perlahan, walau tidak semuanya selesai dalam sehari.

Memasuki bulan Mei, orangtuaku juga menyuruhku makin giat belajar untuk USM PKN-STAN. Aku harus membagi waktu untuk belajar SBMPTN dan USM PKN-STAN. Soal-soal USM PKN-STAN begitu banyak dan sulit, walau hanya TPA dan Tes Bahasa Inggris (TBI), apalagi TBI-nya, berkali-kali lipat lebih sulit dari SBMPTN.

15 Mei 2015. USM PKN-STAN.

Saat itu, tubuhku demam. Jalanan juga macet saat berangkat. Banyak orang. Bagaimana ini? Ya, jalani saja.

Setelah itu, aku harus kembali ke SBMPTN. Aku terus berjuang meningkatkan nilai TO-ku yang naik-turun bagai gunung. Aku sudah pasrah dengan hasil USM PKN-STAN.

25 Mei 2015

Pengumuman hasil tes tertulis USM PKN-STAN.

Alhamdulillah, aku lolos tahap ini. Tahap selanjutnya adalah tes kesehatan. Aku pun menyiapkan tes ini dengan berlatih lari 12 menit di GOR ITS, dan dibimbing oleh saudaraku.

28 Mei 2016. Ujian tulis PMB-PENS kerjasama PLN. Aku lolos tahap pertama, tapi aku gagal pada psikotes yang dilaksanakan pada 2 Juni 2016.

31 Mei 2016

SBMPTN 2016. Hari yang ditunggu.

SUSAH SEKALI. Bahkan, ada soal model baru yang keluar. Aku benar-benar pasrah. Aku keluar dengan muka masam karena soal Saintek dan TKPA yang jauuuuh dari ekspektasiku sebelumnya.

Seusai SBMPTN, aku menyiapkan tes kesehatan USM PKN-STAN dan UMPN-PENS. Perjuanganku belum selesai Juni ini, ketika beberapa anak sudah bersantai melepaskan ketegangan mereka saat SBMPTN dan ujian masuk lainnya.

11 Juni 2016

UMPN-PENS. Ruang ujianku tak kunjung dibuka. Alhamdulillah, aku dapat mengerjakannya dengan cukup baik.

15 Juni 2016

Pengumuman hasil TKK USM PKN-STAN. Kupikir aku tidak lolos pada tahap ini, hanya karena lariku yang hanya sedikit di atas rata-rata peserta putri. Alhamdulillah, aku lolos dan harus menghadapi tes TKD, yang meliputi TWK (Wawasan Kebangsaan), TIU (seperti TPA), dan TKP (sikap).

Saat awal-awal puasa, aku sudah mulai belajar untuk TKD ini, mengingat materinya yang susah, khususnya TWK. Aku lemah dalam pelajaran Sejarah.

21 Juni 2016

Pengumuman UMPN-PENS. Alhamdulillah, aku diterima di D4 Teknik Telekomunikasi PENS.

23 Juni 2016

Tibalah waktuku untuk tes TKD, bersama 45 orang lainnya. Aku mendapat sesi 9, sesi yang paling terakhir, mengingat nomor urutku yang terakhir karena waktu pendaftaranku yang juga akhir.

Soalnya? Ya seperti itu, Kak. TWK yang begitu luas …

Alhamdulillah, aku mendapat skor 365 pada TKD ini. Hanya sedikit di atas rerata nasional, yaitu 350.

Ini adalah tes terakhir. Sekarang, tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan USM PKN-STAN dan SBMPTN.

28 Juni 2016, 14.00

Aku membuka pengumuman SBMPTN dengan hati yang deg-degan. Alhamdulillah, aku diterima di Biologi ITS. Pada hari ini juga, beberapa temanku diterima di PTN yang mereka inginkan, walau ada juga yang belum lolos jalur SBMPTN. Percayalah, ada jalan untuk masuk PTN …

2 Juli 2016, 00.30

Tibalah penantian terakhir, yaitu pengumuman kelulusan USM PKN-STAN 2016. Setelah deg-degan selama berhari-hari, dan juga pengumuman yang diundur (awalnya dijadwalkan tanggal 29 Juni, lalu mundur tanggal 1, keluarnya tanggal 2) …

Alhamdulillah, aku diterima di Prodip I Pajak, dengan tempat pendidikan di BDK Malang.

Jadi, aku mendapatkan 2 PTN dan 1 PTK.

D4 Teknik Telekomunikasi PENS, Biologi ITS, dan D1 Pajak STAN (BDK Malang)

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kuputuskan untuk memilih yang terakhir, yaitu D1 Pajak STAN BDK Malang.

Ya, itulah hikmah. Aku tidak lolos 75% untuk mendaftar SNMPTN, dan aku gagal di tes PMB-PENS kerjasama PLN.

Percayalah, kawan. Ada jalan! Jangan minder hanya karena kalian tidak masuk, bahkan tidak boleh mendaftar SNMPTN sepertiku.

Tapi, ini bukan akhir perjuangan. Justru ini adalah AWAL PERJUANGAN!

Untuk adik-adikku, giatlah belajar, jangan terlalu bergantung pada SNMPTN! Persiapkan diri kalian untuk SBMPTN dan ujian masuk lainnya!

Untuk kawan-kawan yang belum lolos SBMPTN, jangan berputus asa. Ada jalan, kawan. Ada ujian mandiri, ujian masuk D3/D4, dan banyak lagi.

PS :

  • Aku akan membuat tulisan tersendiri tentang USM PKN-STAN, mengingat tesnya yang lebih dari satu tahap.
  • Pada ujian masuk PT, aku tidak boleh memilih PTN yang di luar kota, Ujian Mandiri PTN, dan PTS. Jadi, jalanku untuk ke luar kota hanyalah USM PKN-STAN.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Penulis: nabillaeda

Aquaforager / FiNe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s