Terakhir, Terpilih! : Sebuah Perjuangan

Sesuai janjiku pada post 75%?, aku akan memenuhinya, yaitu membuat tulisan tentang perjalanan panjangku untuk memasuki PKN-STAN.

Kenapa judulnya kok “Terakhir, Terpilih! : Sebuah Perjuangan”? Kenapa nggak “Perjuangan Memasuki PKN-STAN” saja? Karena PKN-STAN adalah ujian yang paling lama pengumumannya, dan itulah yang kupilih sebagai jenjang pendidikanku selanjutnya.


Sebetulnya, dahulu orangtuaku sudah memberi penjelasan tentang PKN-STAN (saat itu namanya masih STAN) padaku sejak kelas 2 SMP. Namun, aku tidak mau karena saat itu kupikir pelajarannya hanyalah Akuntansi, Akuntansi, dan Akuntansi! Sedangkan aku sudah cukup takut dengan pelajaran Ekonomi dan Akuntansi (Tata Buku) saat itu. Belum lagi, saat itu sedang santer-santernya diberitakan oknum alumni yang melakukan korupsi.

Ketika awal SMA, pandanganku masih sama dengan SMP. Hanya saja, aku sudah berpikir tidak semua alumni itu seperti sang oknum tersebut. Masih banyak alumni STAN yang berprestasi.

Nilai mapel Ekonomi saat SMA? Wah, jangan ditanya ya Kak! Ngepres banget! Sering remed!

Semua pandangan itu berangsur-angsur mulai berubah saat kelas 3 SMA. Ternyata PKN-STAN itu tidak hanya Akuntansi. Pajak, Penilai, Kebendaharaan Negara, Manajemen Aset, dan Bea Cukai juga ada di PKN-STAN.

Ketika kelas 3 SMA, sebetulnya ada niat pada diriku untuk memilih jalur IPC pada SBMPTN, karena pada bidang studi Soshum aku berminat pada studi hukum dan semacamnya. Namun, aku tidak jadi memilih IPC, karena pelajaran pada Saintek yang sudah susah. Mungkin aku bisa menempuhnya di luar SBMPTN.

Pendaftaran USM PKN-STAN dimulai. Aku mendaftar pada tanggal yang SANGAT MEPET dari penutupan. Aku mendaftar pada tanggal 3 April 2016, sedangkan penutupan pendaftaran adalah 4 April 2016 (untung diperpanjang hingga tanggal 9 April 2016). Akhirnya aku berhasil mendaftar sepenuhnya pada tanggal 4 April 2016, dengan menjadi pendaftar ke-7224 dari sekitar 8000-an pendaftar yang ada di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Karena aku mendaftar pada saat-saat terakhir, otomatis aku mendapatkan jadwal verifikasi berkas pada tanggal terakhir juga, 28 April 2016. Alhamdulillah,rata-rata nilaiku memenuhi syarat dan berkasku lengkap. Dan aku mendapatkan BPU ((Bukti Peserta Ujian) dan denah lokasi USM PKN-STAN (tertulis) yang dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2016 di UIN Sunan Ampel. Saat itu, aku mendapat ruang ujian di Gedung Fakultas Dakwah D2.

Season 1 : Membagi Diriku (USM PKN-STAN Tahap Ujian Tulis)

Tanggunganku tak hanya USM PKN-STAN. Masih ada UM-PENS PLN, UMPN PENS, dan tentu saja SBMPTN. Pada bulan Mei, ujian yang datang adalah USM PKN-STAN, UM-PENS PLN, dan SBMPTN.

Ketika itu, aku masih rutin belajar Intensive di BKB Nurul Fikri untuk belajar materi SBMPTN. Belum lagi PS (Problem Set, semacam buku PR dari BKB NF) yang harus kukerjakan sesuai target (kalau bisa lebih). Tentu saja, aku sangat giat belajar SBMPTN saat itu.

Sebetulnya, aku sudah belajar beberapa latihan soal USM PKN-STAN, hanya saja tidak terlalu intens (Jangan ditiru ya! Bagi kalian yang mau masuk PKN-STAN, siapkan dari awal!)

Ketika beberapa minggu sebelum USM PKN-STAN, barulah aku mulai belajar dengan intens. Sebisa mungkin aku maksimal dalam setiap tesku! Walaupun belum tentu akan lolos. Keluarkan usaha terbaikmu, Da!

15 Mei 2015.

Badanku panas, dan aku batuk. Ketika peserta lain berangkat dengan wajah yang riang dan tubuh yang sehat, aku berangkat dalam keadaan seperti ini. Sudah pasrah diriku, yang penting aku bisa menjalankan USM ini.

Peringatan : Jaga kesehatan kalian ketika hendak USM PKN-STAN! Jangan sepertiku! Banyak yang gugur di tahap ini, mencapai 93%!

Terlebih lagi ketika melihat peserta di depanku sudah mengisi penuh, sedangkan aku masih banyak yang kosong. Eoddeokhae? … mana USM PKN-STAN itu ada nilai matinya pula. Ya sudah, aku mengisinya semampuku.

Setelah pulang USM, tubuhku masih panas dan lemas. Sudah, mungkin aku tak lolos … wong TPA lo, cuma ngisi berapa … untung aku mengisi TBI cukup banyak, walau tidak tahu apa semua itu benar. Tapi bukan berarti ngawur lo, aku hanya menjawab bila memiliki dasar untuk menjawabnya.

25 Mei 2015

Pengumuman USM PKN-STAN tahap ujian tertulis telah ada di situs PKN-STAN. Saat itu masih pagi buta, jam 3 pagi. Aku mencoba membukanya, dan …

Namaku ada! Nomor BPU-ku tercantum! Sungguh aku tak menyangka. Mana mungkin aku yang latihan hanya dengan satu buku, sakit saat USM, mengerjakan TPA cuma sedikit, TBI nggak tahu benar berapa, bisa lolos? Sungguh ini kuasa Allah SWT.

Dan di sebelah kanan namaku ada jadwal Tes Kesehatan dan Kebugaran (TKK) USM PKN-STAN. Karena daftarku yang terakhir, otomatis aku mendapatkan tanggal yang terakhir juga, hehe. Tanggal tes TKK-ku adalah hari Jumat, 3 Juni 2016. Alhamdulillah, tidak bertabrakan dengan jadwalku yang sebelumnya.

Season 2 : Jangan Manja! (TKK USM PKN-STAN)

Mengetahui aku lolos ujian tertulis USM PKN-STAN, aku ingin mempersiapkannya sebaik mungkin. Bagaimana aku bisa berlatih? Untungnya, orangtuaku menyarankanku untuk berlatih lari 12 menit dan lari angka 8 bersama saudaraku.

Ketika mencoba lari 12 menit, sungguh itu sangaaaat berat, mengingat aku yang sudah tiga bulan lebih tidak lari seperti itu. Terakhir ya pas ujian praktek. Bayangkan, pada percobaan pertamaku, aku HANYA berhasil mendapatkan tiga putaran dalam 12 menit! Setelah itu, saudaraku berkata :

“Kamu sering minum es ya? Kelihatan dari napasmu …”

Iya benar. Aku sangaaaaat suka minum es. Aish, dasar Aquaforager, yang sering tak dapat menahan diri untuk minum es.

Tapi, kali ini aku HARUS bisa menahan diri untuk minum es. HARUS!

Setelah itu, saudaraku mengajariku lari angka 8.

Aku baru berhasil pulang sehabis maghrib. Baru kali itu aku membawa sepeda motor dengan pulang semalam itu sendirian. Dari Semolowaru hingga Simogunung.

Pada saat hendak percobaan kedua …

Jinjja? Sepatuku basah? Karena hujan.

Alhasil aku memakai sepatu gunung pemberian saudaraku yang lain. Sedikit keras, sih. Tapi masih enak.

Dan, celakanya, Kak! Aku tidak membawa kaos kaki!

“Nggak lecet, ta?”

“Nggak apa … bisa, kok”

Aku mencoba lagi untuk lari di GOR ITS. Hasilnya meningkat, sih, empat putaran. Tapi, ngos-ngosan. Sampai saudaraku takut bila diriku kenapa-napa.

“Jangan manja! Tahan dirimu … Kamu ini pingin masuk STAN nggak sih?”

Tentu saja aku menjawab Ya.

Tapi, dia menyemangatiku lagi.

“Ntar kalau di lokasi sebenarnya juga akan terpacu, kok”

Jumat, 3 Juni 2016. Hari itu datang.

Aku datang ke lokasi tes bersama ayahku. Saat itu, lokasi tes berada di Lapangan Bola UNIPA Menanggal. Saat itu, aku mendapat nomor antri yang agak belakang, mengingat hadirku yang agak belakang, walaupun aku dan ayahku sudah berusaha hadir sepagi mungkin.

Setelah itu, aku mengantri di depan Poliklinik UNIPA untuk tes kesehatan. Pada saat ini, aku bertemu anak-anak. Selain itu, aku juga bertemu Hanif, teman SMP-ku dan teman semasa pelajaran peminatan Elektronika di Spega.

Akhirnya, tibalah saatku untuk tes kesehatan. Saat hendak menunggu pengecekan tensi darah, aku sedikit deg-degan mengingat tensiku yang biasanya rendah. Masih terkenang aku yang gagal donor darah di Smala karena tensi yang terlampau rendah, padahal itu adalah kesempatan terakhirku dapat mengikuti donor darah saat aku masih menjadi siswa di Smala.

Yak. Pengecekan tensi darah, tinggi, dan berat badan dimulai.

“Mbak, hayo … jangan lirik-lirik”, kata dokter yang saat itu sedang mengecek tensiku.

“Sudah sarapan?”

“Sudah, Pak”

“Sarapan apa?”

“Roti, Pak”

“Duh, arek saiki … sarapane roti kabeh!” (Duh, anak sekarang … sarapannya roti semua!)

Setelah itu, aku mendapatkan hasil tensi darahku. Untungnya, normal. 120/80. Begitu juga dengan tinggi dan berat badanku. Alhamdulillah …

Selesai? Tidak, Kak. Aku harus tes visus dan butawarna. Karena aku mengenakan kacamata, aku meminta izin kepada petugas untuk mengambil kacamataku di tas.

“Pak, ini boleh pakai kacamata? Saya pakai kacamata …”

“Iya, boleh”

Akhirnya, aku menuju ke ruang cek mata. Mahabesar Allah, hasil minusku sesuai dengan kacamataku saat itu. Padahal, sebetulnya mata kananku lebih rabun ketimbang yang kiri jika aku tutup salah satu.

Lalu, aku tes butawarna. Alhamdulillah, normal.

Setelah itu, aku menuju ke ruang tes kesehatan organ dalam. Aku begitu gugup. Untung yang memeriksa adalah dokter perempuan.

Pertama, perutku dicek. Alhamdulillah, baik. Kedua, tubuhku dipukul dengan tekanan tertentu. Pertama, sakit. Keduanya tidak, hehe. Entah bagaimana hasilnya. Setelah itu, aku dites THT. Lalu disuruh jinjit untuk tes varises, sepertinya.

Dan, yang paling menegangkan adalah … tes ambeien! Kali ini, aku disuruh membuka celana. Kenapa? Ya untuk dilihat, apakah aku memiliki ambeien atau tidak. Alhamdulillah, sepertinya tidak.

Setelah tes kesehatan selesai, lanjutlah diriku ke tes kebugaran. Kami dibagi menjadi kloter yang berisi sepuluh orang. Aku adalah peserta putri terakhir di kloterku. Lainnya nomor 90-an, aku 100-an. Aku mendapatkan waktu sebelum salat Jumat. Dan, kami mendapat nomor rompi. Aku mendapat nomor 10 kuning saat itu.

Sebelum lari, kami melakukan pemanasan terlebih dahulu. Dan, saat itu dicontohkan juga bila kita sudah selesai satu putaran. Petugas menggunakan nomor rompi yang dikenakan oleh Titis sebagai contohnya. “Tiga kuning!”

Akhirnya, kami berlari selama dua belas menit mengelilingi lapangan bola UNIPA Menanggal.

“Waduh, semua larinya cepat! Jinjja?”, kataku dalam hati, yang saat itu berlari tidak terlalu cepat.

Aku tidak ingin berlari cepat di awal namun kepayahan pada akhirnya. Aku harus stabil! Harus! Dan jangan kepayahan!

Entah mengapa, pada selesai lap pertama, aku kelepasan menyebut tiga kuning, padahal nomorku sepuluh kuning. Terlalu membara kali yak.

“Tiga kuning! … Eh, Pak, Pak, sepuluh kuningggg!”

Untungnya pada lap selanjutnya aku tidak lagi salah sebut nomor.

Akhirnya, tes lari 12 menit pun berakhir. Aku mendapat lima putaran lebih sedikit, Alhamdulillah. Setelah itu, aku pun kembali pulang.

Aish. Aku sudah pasrah. Banyak yang larinya lebih dariku.

Ketika awal ramadhan, aku sudah disuruh belajar TKD (Tes Kompetensi Dasar). Tapi, aku tak yakin bila aku akan lolos TKK.

15 Juni 2015

Aku membuka pengumuman kelulusan TKK di situs resmi PKN-STAN. Dan …

Namaku dan nomor BPU-ku tercantum di sana! Dan, lagi-lagi aku mendapatkan jadwal tes TKD hari terakhir, pada hari Kamis, 23 Juni 2016 sesi pagi.

Berarti, aku harus mempersiapkan TKD lebih giat. Alhamdulillah, ayahku membelikanku sebuah buku TKD. Aku belajar TKD dari buku, internet, dan aplikasi Android. TKD terdiri dari TWK (Wawasan Kebangsaan), TIU (Inteligensi Umum), dan TKP (Karakteristik Pribadi).

TKD tak mudah bagiku, Kak. Aku yang lemah dalam pelajaran Sejarah harus mengulang materi itu berkali-kali. Begitu juga dengan Undang-Undang dan peraturan lainnya.

23 Juni 2016

Aku datang cukup pagi ke lokasi tes, yaitu Gedung Keuangan Negara (GKN) Surabaya I Aula Majapahit, di Jalan Indrapura 5, Surabaya. Setengah jam dari kawasan rumahku, Simogunung.

Akhirnya, datanglah saat itu. Hanya dua anak sesekolahku yang satu sesi denganku, yaitu Fifi dan Iib dari XII-IS. Kami mengulang lagi apa yang kami pelajari sebelum TKD.

Dan … datanglah saat itu. Badanku hangat lagi, aish. Aku mengerjakan TKD dengan keadaan tubuh yang sedikit hangat. Untung tidak panas sekali seperti waktu ujian pertama.

Ketika mengerjakan TKD, rasanya …

Jinjja? Baru soal pertama sudah seperti ini? Hm, pasrah saya, Kak. Ne …

Aku kerjakan soal-soal yang ada pada TKD itu dengan perlahan. Apa yang tak tahu, kulewati terlebih dahulu. Tapi tak isi semua, kok. Dan … sungguh mendebarkan, karena hasilnya langsung keluar.

Alhamdulillah, aku memenuhi ambang batas TKD dan masing-masing tesnya. Saat itu, skorku adalah 365, dengan rincian TWK 90, TIU 115, dan TKP 160. Banyaaaaak sekali yang jauh lebih baik dari itu. Skorku hanyalah 15 poin di atas rerata nasional.

(Ambang batas TKD adalah 271. Dengan skor minimum TWK adalah 70, TIU adalah 75, dan TKP adalah 126.)

Tapi … lolos TKD belum tentu bisa diterima, ya. Aku sudah pasrah. Tinggal menunggu pengumuman. Mana pengumumannya sempat diundur pula … semula 29 Juni, menjadi 1 Juli, walau keluarnya ternyata 2 Juli jam 00.30.

Saat itu, aku sedang menuju Masjid Agung. Aku membukanya, dan…

Alhamdulillah! Aku lolos pada Prodip I Pajak, dengan lokasi pendidikan di Malang. Walau bukan pilihan pertama, Insya Allah itu yang terbaik. Aku juga senang, karena aku mendapatkan spesialisasi impianku, yaitu Pajak.

Aku sudah mendapatkan dua PTN di Surabaya yang kusenangi saat itu. Aku mendapatkan jurusan Biologi ITS dan Teknik Telekomunikasi PENS. Hayo, yang mana yang kaupilih, Da?

Atas petunjuk Allah SWT, aku memilih Prodip I Pajak sebagai pendidikanku selanjutnya. Alhamdulillah, orang tua juga meridhoi pilihanku itu. Malahan, beliau senang, karena pendidikannya yang baik, lingkungan yang kondusif, dan pekerjaan yang baik juga.

Akhirnya, aku pun berangkat daftar ulang ke BDK Malang pada hari pertama, yaitu Senin, 25 Juli 2016. Di sana aku bertemu dengan Fifi, temanku Smala dari XII-IS, dan juga berkenalan dengan teman-teman baru lainnya.

Ya Allah, lancarkanlah studi kami di PKN-STAN. Ridhoilah kami, Ya Allah. Aamiin …


 

Kamus

Jinjja : Benarkan? ; Benar-benar. Berasal dari Bahasa Korea.

Eoddeokhae : Bagaimana? ; Bagaimana ini?. Berasal dari Bahasa Korea.

Ne : Ya. Berasal dari Bahasa Korea.

Dua kata Bahasa Korea tersebut adalah pengaruh dari Alsa, Fitria, dan Sandy (?), eh, aku sendiri yang gemar mengucap Jinjja, Eoddeokhae, dan Ne.


 

Bonus part : Q&A USM PKN-STAN.

Q :Da, aku nggak tinggi, dan aku pake kacamata. Mana mungkin bisa lolos?

A : Tinggi saya cuma 158 cm dan berkacamata, Kak. Sebetulnya selain spesi Bea Cukai boleh kok tinggi berapapun. Untuk spesi Bea Cukai minimal tinggi 155 cm bagi perempuan dan 165 cm bagi laki-laki. Mata maksimal -2 / +2 dan tidak butawarna. Selain spesi Bea Cukai tidak ada ketentuan.

Q : Untuk masuk STAN harus bisa Akuntansi ya?

A : Nggak, Kak. Kalau kayak gitu aku nggak bakal masuk STAN. TPA dan Bahasa Inggris, Kak … kita akan diajari Akuntansi, Pajak, dll itu dari dasar kok.

Q : Yang bisa masuk STAN itu cuma yang pinter ya? Hiks, aku nggak pinter, Da.

A : Ingat! Tes apapun itu tidak harus yang pinter, jenius, yang lolos. Tapi yang punya kemauan kuat, usaha dan doa yang kuat, dan Allah memilihkan jalan tersebut. Lagipula, tidak ada orang bodoh di dunia ini.

Q : STAN itu tes fisiknya susah ya kek Akpol dan Akmil?

A : Tidak seberat itu. Tapi tetap ada tes kesehatan, lari 12 menit, dan lari angka 8.Yang paling menegangkan (menurutku) adalah tes ambeien.

Q : STAN kok cuma Diploma I dan III?

A : Nggak papa, jangan khawatir, kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, kok … dan kita juga sudah mendapat pekerjaan yang layak. Jangan gengsi, Kak. Untuk apa ngebet Sarjana kalau cuma pingin gengsi dan hitz? Apapun jenjangnya, pilihlah dengan hati yang lurus.

Q : Katanya soal Bahasa Inggris susah ya Da?

A : Kalau menurutku, iya. Lebih susah dari SBMPTN. Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya. Makanya, pelajari reading dan grammar, terutama. Jangan lupa tambahlah kosakata ya.

Q : Katanya STAN sudah nggak ikatan dinas lagi ya?

A : MASIH. Buktinya, calon STANers 2016 masih harus tes TKD sebelum diterima … oh ya, angkatan kami TKD-nya di depan.

Q : Kuliah di STAN itu nggak asik ya? Saat yang lain bisa bebas, kalian harus berseragam.

A : Insya Allah asyik kok, Kak. Aku belum menjalaninya … biarkan waktu yang menunjukkannya, aku hanya bisa menjalani. Oh ya, kalau masalah tidak bisa sembarang berbaju, ya emang. Tapi itu justru menjadi tantangan tersendiri, di saat kamu harus menahan keinginan hitz dengan baju bebas. Itu akan menjadi rasa tersendiri nantinya.

Q : STAN mahal ya …

A : Waduh, Kak. Kita hanya perlu mendaftar biaya pendaftaran sebesar Rp. 250.000, seperti SBMPTN. Gratis setelah itu! Tanpa UKT! Tanpa uang pangkal!

Q : Aku takut jauh sama doiku, Kak. Apalagi kalau pas dapet di BDK yang jauh …

A : Hayo, milih doi atau masa depan? Kalau jodoh, sejauh apapun akan bertemu kok … tapi nanti, sinau sek, jok pacaran ae.

Q : STAN itu banyak cowoknya ya? Duh, aku cewek, Da.

A : Aku juga cewek, Kak. Memang, penerimaan USM PKN-STAN sampai tahun ini juga tetap banyak cowoknya. Tapi nggak ngacek kok, hanya selisih sedikit.

Q : Da, piye … aku nggak bisa sejarah dan PKn! Sedangkan tes TKD butuh itu semua.

Oh ya, walaupun skornya besar tetapi salah satu tesnya tidak memenuhi dinyatakan tidak lulus TKD, Da?

A : Belajarlah, Kak. Untukmu yang benar-benar ingin masuk PKN-STAN.

Yak, benar! Kakak harus memenuhi nilai minimal tes TKD dan nilai minimal masing-masing tesnya. Skor minimal? Scroll ke atas ya Kak.

Kejadian tidak lulus TKD walau skornya besar itu banyak, Kak. Bahkan di regionku, Surabaya, ada beberapa peserta yang tidak lulus TKD, padahal nilainya besar. Kenapa? Karena skornya tidak memenuhi pada salah satu tes, pada umumnya sih TWK. Ncen killer kok TWK iku.

Q : STAN itu militer ya? Aku nggak kuat, Da …

A : Nggak militer kok. Tapi, khusus spesi Bea Cukai itu pendidikannya semi-militer. Kenapa? Karena mereka akan disiapkan untuk mengamankan perbatasan dari penyelundupan dan barang-barang yang berbahaya.

Q : Kenapa sih, Kak, orangtua kok ngebet banget yang namanya masuk PKN-STAN? (dan juga sekolah ikatan dinas lainnya)

A : Kak, sekarang susah mencari pekerjaan … kecuali jika kau betul-betul mampu. Selain itu, orangtua juga senang akan pendidikan di PTK yang disiplin, kondusif, dan tidak terlalu bertele-tele. Apalagi untuk anak pertama dan anak tunggal, orangtua biasanya mengharapkan untuk bisa ke ikatan dinas.

Tetapi, janganlah masuk PKN-STAN atau perguruan tinggi manapun karena dipaksa. Musyawarahkan dengan orangtua dan pahamilah keinginan mereka. Jika kamu memang ingin ke PT lain, bicarakan baik-baik sebelum kamu daftar. Namun, jika memang jurusan yang kamu inginkan sama dengan apa yang ada di PKN-STAN atau ikatan dinas lain, apa salahnya mencoba.

Semisal, kamu ingin jurusan Statistika di ITS. Tidak ada salahnya kan mencoba USM STIS? Mungkin saja Allah memberikanmu jalan menjadi statistikawan/wati melalui STIS, bukan ITS.

Pengalaman ini terjadi pada diriku sendiri, ya. Aku tidak boleh orangtuaku memilih jurusan Hukum Unair (IPC) saat SBMPTN (dan akhirnya aku hanya mengikuti ujian Saintek), padahal aku ingin mempelajari hukum, khususnya tentang pajak. Aku heran, kenapa banyak pengusaha yang memanipulasi pajaknya. Akhirnya, Allah memberikanku jalan melalui USM PKN-STAN, bukan SBMPTN.

Q : Spesi Bea Cukai hanya untuk laki-laki ya?

A : Perempuan bisa, tetapi hanya untuk Prodip I.

Q : Apakah USM PKN-STAN ada passing grade? Apakah ada kuota daerah?

A : Tidak, kok. Jangan terlalu bergantung pada Passing Grade, seleksi apapun itu! Tinggi-tinggian nilai kok, Kak, seperti seleksi lain.

PS : Q&A mungkin akan diupdate jika ada pertanyaan yang sering juga.

Jika hendak bertanya mengenai USM PKN-STAN, SBMPTN dan kehidupan kelas 12 lainnya bisa tanya aku di :

nabillaeda@gmail.com untuk e-mail.

nabillaeda untuk Instagram, bisa DM kok, tenang, nggak tak gembok.

Atau nabils29 untuk ID Line, nabils13 untuk ID KakaoTalk.

Oke. Sekian dulu, ya … hehe.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Penulis: nabillaeda

Aquaforager / FiNe

1 thought on “Terakhir, Terpilih! : Sebuah Perjuangan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s